Sultan Berharap Sekolah Iklim Bisa Kurangi Risiko Dampak Cuaca Ekstrem

Sri Sultan HB X. - Ist/Diskominfo DIY
03 November 2020 18:47 WIB David Kurniawan Jogja Share :

Harianjogja.com, GEDANGSARI – Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengapresiasi pelaksanaan sekolah lapang iklim yang diselenggarakan oleh Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika di rest area Gubuk Gede di Kalurahan Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul Selasa (3/11/2020). Kegiatan ini dinilai dapat mengurangi risiko materi akibat kegagalan panen yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem.

“2019 lalu ada lahan padi seluas 20.000 hektare yang mengalami puso. Diharapkan dengan adanya sekolah iklim ini, maka kerugian produksi dampak dari iklim yang ekstrem bisa ditekan,” kata Sultan dalam video conference saat membuka sekolah lapang iklim.

BACA JUGA : Corona di DIY Meroket, Ini Kata Sultan Jogja

Menurut dia, adanya anomali dan cuaca ekstrem berdampak terhadap pranata mangsa dalam bercocok tanam. Selama ini, kata Sultan, banyak petani yang memakai ilmu titen, berdasarkan pegalaman untuk bercocok tanam. Sebagai contoh, petani akan mulai bertani pada masa kelima dalam penanggalan Jawa atau sekitar Oktober-November.

Meski demikian, akurasi dari penanggalan ini sudah banyak berubah karena adanya perubahan iklim sehingga tidak bisa jadi patokan utama. Oleh karenanya, dibutuhkan sentuhan teknologi melalui pendampaingan dari BMKG agar petani bisa mengetahui tentang cuaca maupun iklim agar pertanian yang dijalankan bisa optimal.

“Harus ada kombinasi sehingga petani bisa membaca iklim agar penurunan produksi diakibatkan anomali cuaca bisa dikurangi,” katanya.

BACA JUGA : Sultan Jogja: DIY Tak Akan Terapkan PSBB karena Bisa

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, pelaksanaan sekolah lapang iklim di Gedangsari bukan yang pertama kali. Pasalnya, kegiatan sama juga sudah diselenggarakan di Kapanewon Ponjong dan Rongkop. “Sekolah iklim tahun ini dibagi untuk tiga wilayah. Zona selatan dilaksanakan di Rongkop, tengah di Kapanewon Ponjong dan zona utara dilaksankaan di Gedangsari,” kata Bambang.

Menurut dia, penyelenggaraan sekolah iklim sangat penting guna memberikan pemahaman kepada petani berkaitan dengan perubahan iklim maupun cuaca ekstrem. “Musim hujan kali ini ada Lanina dan harus diwaspadai agar tidak mengganggu dalam hal produktivitas,” katanya.

BACA JUGA : Sultan Ingin Masyarakat Terbiasa Masuk Malioboro Jalan Kaki

Menurut dia, sejauh ini dampak dari Lanina belum terlihat karena dengan musim hujan lebih awal berdampak positif karena petani bisa langsung bercocok tanam. “Sekarang ada dampak positifnya karena tidak ada ngawu-awu [melakukan penanaman sebelum musim hujan]. Tahun lalu ada 16.000 hektare lahan yang diakukan penanaman dengan ngawu-awu dan mengalami kegagalan karena harus dilakukan sebanyak empat kali sehingga operasional petani bisa lebih kecil,” katanya.