Tak Hanya Romantisme Jogja, Kampanye Jogja Aman Juga Perlu Ditingkatkan

Peserta mengikuti acara Workshop Model Rantai Nilai Kolaborasi Ketahanan Ekonomi Sektor Wisata di Era Pandemi' yang berlangsung di Kantor Kesbangpol DIY, Kamis (15/4/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
16 April 2021 07:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Untuk membangkitkan perekonomian DIY, tidak bisa berhenti pada upaya meromantiskan Jogja seperti kampanye ‘Kangen Jogja.’ Lebih lanjut, perlu semakin menggelorakan kampanye ‘Jogja Aman.’ Hal tersebut disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Sosial Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, Heditia Damanik.

Sebagai daerah yang mengandalkan sektor pariwisata, pendidikan, dan budaya, pandemi Covid-19 sangat berdampak pada DIY. Dari segi kunjungan wisatawan misalnya, dari sekitar enam juta pengunjung pada 2019, pengunjung pada tahun 2020 tersisa dua juta orang. Hal ini pula yang berdampak pada meningkatnya kemiskinan DIY sebesar 1,36 persen, menurut data Susenas BPS per bulan September 2020. Artinya 12,08 persen dari jumlah penduduk DIY, atau sekitar 503.140 jiwa berada dalam kemiskinan.

Melalui analisis rantai nilai yang memetakan sektor yang terlibat dan tugasnya, Heditia merumuskan tiga hal yang bisa dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY guna membangkitkan sektor pariwisata dan lainnya. “Reviltalisasi kegiatan ekonomi dengan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi,” kata Heditia dalam Workshop Penyusunan Implementasi Rencana Aksi Ketahanan Ekonomi Sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Analisa Rantai Nilai bertema ‘Model Rantai Nilai Kolaborasi Ketahanan Ekonomi Sektor Wisata di Era Pandemi’ di Kantor Kesbangpol DIY, Kamis (15/4/2021).

Dalam hal adaptasi, perlu adanya penerapan protokol kesehatan (prokes) di berbagai tempat seperti destinasi wisata, transportasi, hotel, dan lainnya. Selain itu, perlu juga sertifikasi wisata sebagai penjaminan keamanan, vaksinasi pelaku wisata, ketersediaan alat tes Covid-19 yang terjangkau, dan lainnya. Semua ini bermuara pada rasa aman pengunjung saat hendak ke Jogja.

Mengingat kondisi sudah berbeda sejak pandemi, perlu pula inovasi dalam hal pariwisata. Selain wisata atau pertunjukan budaya secara virtual, program quality tourism juga bisa menjadi salah satu solusinya. Dengan waktu tinggal wisatawan yang lebih lama, maka pengeluaran mereka juga lebih besar.

“Tugasnya Badan Kesbangpol DIY bisa jalin komunikasi yang bagus antar Organisasi Perangkat Daerah dan instansi. Nantinya bisa memunculkan sebuah kerja yang kolaboratif,” kata Heditia yang juga seorang analis media dan big data.

Namun ketiga hal di atas sangat bergantung dengan regulasi yang ada, beberapa di antaranya Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) dan larangan mudik. “Mau sebaik apapun inovasinya, kalau regulasi terlalu ketat, mereka tidak bisa benafas. Ini memang buah simalakama, regulasi ada juga agar kita aman,” kata Heditia.

Lebih lanjut, Heditia mengatakan tantangan saat ini dalam membangkitkan ekonomi adalah regulasi serta ego sektoral antar pemangku kebijakan.

Setelah segala persiapan selesai, langkah selanjutnya yaitu dengan membranding ‘Jogja Aman’ kepada masyarakat luas. Menurut Konsultan Bisnis Rommy Heryanto, cara branding bisa berkaca dari negara lain, salah satunya Spanyol. Mereka menggunakan slogan 360 Percent Save bagi para wisatawan yang hendak berkunjung. Spanyol hanya menggunakan slogan tunggal ini untuk setiap jenjang.

Selain itu, perlu pula mencari model baru dalam pariwisata DIY, termasuk memaksimalkan desa wisata. Tugas saat ini adalah membuat 400 desa wisata di DIY bisa maksimal. “[Desa wisata] yang masih belum bagus mari kita kroyok [benahi] bareng-bareng, yang sudah bagus kita maksimalkan,” kata Rommy.

Menyusun Dokumen

Workshop ini merupakan serangkaian upaya Badan Kesbangpol DIY menyusun dokumen yang nantinya untuk pertimbangan Pemda DIY. Menurut Kepala Bidang Ketahanan Sosial, Budaya, dan Ekonomi, Rusdianto, sejak akhir 2020 Badan Kesbangpol DIY telah melakukan berbagai diskusi, termasuk dengan para pelaku desa wisata.

“Menggali apa permasalahan yang ada di desa wisata saat ini. Buat peta stakeholder kalau kemudian kami buat tata kelola kolaborasinya,” kata Rusdianto.

Hasil perencanaan ini, nantinya bisa menjadi pertimbangan atau melengkapi dokumen perencanaan pembuatan kebijakan Pemda DIY.

Peserta mengikuti acara Workshop Model Rantai Nilai Kolaborasi Ketahanan Ekonomi Sektor Wisata di Era Pandemi’ yang berlangsung di Kantor Kesbangpol DIY, Kamis (15/4/2021)./Harian Jogja-Sirojul Khafid