Tren Tata Rias Tradisional Wujud Pelestarian Budaya di Era Milenial

Peringatan Hari Kartini di Pendopo Ageng Royal Ambarrukmo Yogyakarta pada Sabtu (24/4/2021). - Ist/dok Royal Ambarrukmo Yogyakarta
26 April 2021 10:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Hari Kartini yang jatuh pada 21 April menjadi momen memperingati tokoh sentral wanita Indonesia yang memperjuangkan emansipasi dan mempelopori kebangkitan kaum wanita.

General Manager Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Herman Courbois mengatakan untuk menggugah kepedulian dan semangat Royal Ambarrukmo Yogyakarta dan Pengantin Production Yogyakarta serta Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengadakan acara peringatan Hari Kartini dengan tema Trend Tata Rias Tradisional Sebagai Bentuk Pelestarian Budaya di Era Milenial.

Kegiatan ini sekaligus mengenang emansipasi wanita almarhum Tienuk Riefki dalam mengenalkan Tata Rias Pengantin Adat Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan di Pendopo Ageng Royal Ambarrukmo Yogyakarta pada Sabtu (24/4/2021) pukul 16.00 WIB.

“Tata Rias Adat merupakan salah satu kekayaan budaya, mangement Royal Ambarrukmo Yogyakarta ikut berperan melestarikan budaya dengan cara menjaga dan merawat bahkan merenovasi heritage Kraton Kasultanan Yogyakarta yaitu Pendopo Ageng Royal Ambarrukmo,” jelas Herman.

Saat ini Pendopo Ageng Royal Ambarrukmo menjadi tempat favourite untuk penyelenggaraan acara pernikahan tradisional yang paling diminati kaum milenial. Bahkan heritage ini sering digunakan sebagai tempat penyelanggaraan acara upacara adat dan kegiatan budaya lainnya.

Kegiatan ini membangkitkan kembali semangat dan cita-cita Kartini melalui cerita tentang cerita almarhum Tienuk Riefky sebagai tokoh wanita yang berpengaruh dalam melestarikan Tata Rias Pengantin Adat Yogyakarta. Cerita pengalaman tersebut dipandu oleh Owner Pengantin Production Yogyakarta, Dani Wigung melalui talk show obrolan santai yang diisi langsung bersama dr. Wigung Wratsangka sebagai penerima anugerah kebudayaan pelaku dan pelestari adat oleh Gubernur DIY, Sri Sultan HB X.

Pengalaman dr. Wigung Wratsangka bersama Tienuk Riefki banyak memberikan warna dalam tata rias dan tata upacara adat Yogyakarta. Bersama para anak didik Tienuk Riefki, mereka adalah saksi hidup melihat dan merasakan langsung Tienuk Riefki dalam mengenalkan dan mengajarkan Tata Rias Adat Yogyakarta kepada generasi muda dan kaum milenial.

“Para perias muda kaum milenial ikut hadir untuk mengenal dan menumbuhkan rasa cinta pada tata rias tradisional. Mereka adalah generasi muda dan influencer anak-anak milenial yang perlu diarahkan untuk mengenal kekayaan budaya tata rias tradisional khususnya Tata Rias Adat Yogyakarta, sehingga tumbuh rasa bangga dan cinta kepada budaya bangsa. Regenerasi adalah salah satu cara melestarikan adat dan budaya,” ucap Wigung.

Peringatan Hari Kartini ini dilengkapi dengan Pameran Dokumentasi Foto Tienuk Riefki berjudul Regenerasi, dengan kurator dari salah satu mahasiswa Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Di dalamnya disajikan foto-foto yang jarang dipublikasikan. Karya seni yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan arsip foto almarhum Tienuk Riefki selama berkiprah di dunia tata rias khususnya tradisional Yogyakarta.

Acara ini diharapkan dapat melestarikan adat dan budaya, meskipun zaman sudah berubah tetapi tata rias pengantin tradisional dan adat budayanya tetap terpelihara dengan baik dan tidak ditinggalkan oleh generasi berikutnya sehingga tidak hilang ditelan arus jaman. (ADV)