DPRD Gunungkidul Siapkan Perda Reklame, Bidik Optimalisasi PAD
DPRD Gunungkidul membahas Raperda Penyelenggaraan Reklame untuk mengoptimalkan PAD, menata reklame, dan memperkuat kepastian hukum.
Ilustrasi/Pixabay
Harianjogja.com, WONOSARI – Jumlah kasus penderita DBD di Gunungkidul menurun drastis. Meski demikian, masyarakat diminta tetap wasada terhadap ancaman gigitan nyamuk aedes agepty.
Data dari dinas kesehatan Gunungkidul, sejak Januari hingga pertengahan April ada 35 warga yang terserang DBD. Jumlah ini menunjukan adanya grafik penurunan karena di Januari 2020 ada 142 kasus. Secara keseluruhan tahun lalu ada 975 kasus, dengan empat orang meninggal dunia.
BACA JUGA : Kasus Demam Berdarah di Gunungkidul Tertinggi Se-DIY
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, apabila melihat dari jumlah kasus, serangan DBD mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dikarenakan, hingga pertengahan April laporan serangan ada 35 kasus. “Ya kalau dibandingkan dengan serangan di tahun lalu ada penurunan yang tajam,” kata Dewi, Minggu (25/4/2021).
Meski ada tren menurun, ia berpesan kepada masyarakat untuk tetap waspada. Memasuki musim kemarau tak lantas potensi penyebaran menghilang karena adanya genangan sedikit di lingkungan rumah tetap dapat menjadi sarang berkembangbiaknya nyamuk.
“Memang saat kemarau warga yang terserang lebih sedikit dibandingkan dengan saat musim hujan. Tapi, tak lantas ancaman menghilang karena potensi gigitan nyamuk demam berdarah tetap ada,” ungkapnya.
Menurut dia, kewaspadaan terhadap ancaman penyakit DBD bisa dilakukan dengan terus menjalankan program hidup bersih sehat dan berolahraga. Gerakan untuk menutup mengubur dan menguras tempat-tempat wadah air harus tetap dilakukan.
BACA JUGA : Siklus Lima Tahunan, Hampir 3.000 Warga DIY Terjangkit
“Tentunya harus didukung dengan makanan yang bergizi. Program pemberantasan sarang nyamuk tetap harus dilakukan secara berkala melalui gerakan 3M,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro. Menurut dia, tren serangan DBD sudah terpetakan dengan masa puncak pada Januari hingga April. Meski demikian, samun dia, untuk tahun ini jumlah serangan lebih sedikit ketimbang kasus di 2020. “Mudah-mudahan ancaman dapat terus diturunkan,” katanya.
Secara umum, lanjut Sumitro, musim kemarau akan mengalami penurunan jumlah kasus dan akan kembali meningkat saat memasuki musim hujan. “Polanya memang seperti itu. Oleh karenanya, masyarakat tetap harus waspada,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul membahas Raperda Penyelenggaraan Reklame untuk mengoptimalkan PAD, menata reklame, dan memperkuat kepastian hukum.
Prabowo meresmikan 3.395 jembatan TNI-Polri dan 3.000 sumber air bersih TNI AD di seluruh Indonesia pada 13 Agustus 2026.
Gempa Kolombia menewaskan 265 orang dan merusak 53.526 rumah. Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi.
DPRD Kulonprogo meminta Pemkab menyiapkan solusi permanen kekeringan, termasuk pemetaan wilayah dan pembangunan sumber air alternatif.
BPKAD Kota Jogja mengembangkan SIAP, sistem pengingat digital untuk mendorong penarikan APBD tepat waktu dan mencegah penumpukan.
Iran menolak menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz sebelum AS memenuhi tuntutan terkait perang, aset, dan gencatan senjata.