Jelang Lebaran, Warga Diminta Waspadai Produk Pangan Kedaluarsa

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo bersama Kepala BPOM Yogyakarta Dewi Prawitasari saat pemeriksaan produk pangan buka puasa di area Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman, Rabu (28/4) petang. - Harian Jogja/ Abdul Hamid Razak.
29 April 2021 15:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta mengintensifkan pengawasan produk yang dijual di pasaran menjelang lebaran 2021.

Pengawasan ini dilakukan untuk mewaspadai potensi bahaya produk pangan yang tidak memenuhi ketentuan (TMK). Mulai pangan tanpa izin edar, pangan kadaluarsa, pangan rusak, dan penyalahgunaan bahan berbahaya menjadi titik fokus pengawasan.

Kepala BPOM Yogyakarta Dewi Prawitasari menghimbau agar masyarakat memerhatikan produk-produk yang dijual di pasaran menjelang perayaan Idul Fitri. Pasalnya, BPOM menemukan sejumlah produk rusak dan kadaluarsa masih dijual.

BACA JUGA : BPOM DIY Temukan Makanan Kadaluarsa, Ini Sanksi untuk

"Masyarakat harus memerhatikan cek KLIK. Cek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa. Ini harus diperhatikan," kata Dewi usai memeriksa produk pangan buka puasa di area Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman, Rabu (28/4/2021) petang.

BPOM sendiri melakukan sidak ke sejumlah titik sarana penjualan sejak 5 April hingga 21 Mei mendatang. Hingga kini, BPOM telah memeriksa 53 sarana distribusi pangan di mana hasilnya sebanyak 37 sarana dinilai memenuhi kriteria dan 16 sarana lainnya tidak memenuhi kriteria karena ditemukan produk rusak, kedaluwarsa dan tanpa izin edar.

Temuan sarana yang tidak memenuhi kriteria tersebut, selain di Kota Jogja (1 sarana) juga ditemukan di Sleman (6 sarana), Bantul (6 sarana), Kulonprogo (1 sarana), dan Gunungkidul (2 sarana). Mulai dari distributor, pasar modern (hypermart, supermarket, swalayan), toko, pasar tradisional, pembuat maupun penjual parsel.

Dewi meminta agar masyarakat tidak hanya tergiur dengan promosi-promosi yang ditawarkan. Seperti buy one get one free dan promosi lainnya. BPOM, katanya sudah menemukan adanya barang kadaluarsa salah satunya di wilayah Sleman. "Sudah ada temuan di Sleman. Oleh pelaku usahanya dimusnahkan sendiri," katanya.

Pasar Takjil

Di Pasar Takjil Maguwoharjo, BPOM mengambil 38 jenis sample makanan takjil yang dijual warga. Dari 38 sample makanan yang diuji tersebut hasilnya negatif dari kandungan pengawet dan pewarna makanan yang berbahaya.

BACA JUGA : Awas, Makanan Kadaluarsa Masih Beredar di Terminal 

"Sudah kami uji kandungan pada beberapa makanan, seperti cilok, arum manis, minuman berwarna dan lain-lain, semuanya hasilnya negatif," ujarnya.

Pengawas Pasar Takjil Kopdar Maguwoharjo Setiawan mengatakan di lokasi tersebut ada sekitar 250 warga yang berjualan berbagai jenis produk. Sejak Ramadan, jumlah penjual yang bergabung terus meningkat. "Kami senang dengan kehadiran BPOM ke sini. Dengan begitu, baik penjual maupun pembeli bisa mengetahui mana makanan atau minuman yang aman dikonsumsi," ujar Setiawan.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan kegiatan ini ditujukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar selalu menerapkan hidup sehat. Menurutnya menu takjil atau berbuka puasa harus terhindar dari zat-zat yang dapat membahayakan bagi tubuh. "Ini tadi sudah diuji hasilnya semua negatif. Ini artinya masyarakat sudah sadar akan pentingnya hidup sehat," ucapnya.

Ia berharap hasil pemeriksaan BPOM tersebut dapat dipertahankan oleh para pedagang takjil di Sleman. Hal ini menurutnya penting demi terhindar dari berbagai macam penyakit yang ditimbulkan dari kandungan berbahaya dari makanan tersebut.