Sepekan Jelang Lebaran, Jalur Alternatif di Sleman Sepi Pemudik

Kondisi jalur alternatif di Tempel-Pakem-Cangkringan pada Jumat (7/5/2021) siang yang sepi dari kendaraan pemudik. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
08 Mei 2021 07:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Jalur alternatif Tempel, Pakem, Cangkringan, Klaten, cukup sepi dilalui kendaraan pemudik. Pada hari biasa, jalur ini cukup padat dengan berbagai jenis kendaraan. Hanya beberapa kendaraan luar dari daerah yang melintasi jalan ini. Kendaraan plat luar daerah yang melintas didominasi plat AA dan AD. Hanya beberapa kendaraan plat B, H, dan K yang melintasi jalur ini.

Jalur Tempel-Pakem-Cangkringan memiliki banyak jalur pilihan menuju wilayah perbatasan Klaten Jawa Tengah. Misalnya dari Sabo Dam Kali Gendol di Bronggang, Agromulyo melewati Glagaharjo, pemudik akan dengan mudah mencapai Klaten. Begitu juga dengan akses melalui Jalan Plumbon Raya, Ngemplak sebagai alternatif jalur menuju wilayah Manisrenggo, Klaten.

Jalur tikus lainnya bisa melalui Jalan Jolonan Raya Binomartani, Ngemplak ke Manisrenggo Klaten. Alternatif lain bisa melalui Jalan Raya Prambanan Tamanmartani yang menyambung dengan jalan Manisrenggo, Klaten. Selama seharian mengamati jalur-jalur tersebut, tidak ada penjagaan yang dilakukan petugas.

Baca juga: Ini Skenario Pemkab Bantul untuk Pemudik yang Lolos di Perbatasan

Plt Kepala Dishub Sleman Arip Pramana mengakui petugas yang mobile ke jalur-jalur alternatif baru menemukan satu kendaraan plat H.

"Sampai Jumat (7/5/2021) siang tadi volume kendaraan landai. Petugas hanya bertemu satu kendaraan plat H di Blaburan Tempel. Setelah diperiksa ternyata pekerja," kata Arip.

Dia menjelaskan, salah satu alasan kenapa penyekatan dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Berdasarkan data Kemenhub, potensi pemudik pada 2021 sekitar 7% dari jumlah penduduk atau sekitar 17,5 juta. Dari jumlah tersebut sebanyak 8% atau 1,3 juta penduduk merupakan pemudik dari Jogja.

Baca juga: THR untuk PNS Dipangkas Bukti Nyata Kondisi Keuangan Negara Sulit

Berdasarkan pengalaman empat kali momentum liburan pada 2020 lalu, lanjut Arip, setelah ada liburan, lonjakan kasus Covid-19 meningkat tajam. Data statistik menyebut, setelah libur Idulfitri 2020 kasus Covid-19 bertambah 93%, pada libur Agustus kasus Covid-19 naik 119%, dan pada libur Maulud Nabi kembali bertambah 95%.

"Pasca libur akhir tahun secara nasional menunjukkan ada penambahan kasus 78%. Tentu kami tidak berharap, selepas Idulfitri tahun ini terjadi lonjakan kasus baru," kata Arip.