KWT Putri Manunggal Bikin Produk Olahan Bawang

Produk olahan bawang milik Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Manunggal di dusun Pergiwatu, Kalurahan Srikayangan, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo menjadi upaya warga untuk mendulang rupiah di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis. Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
20 Mei 2021 08:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, SENTOLO--Produk olahan bawang besutan Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Manunggal di Dusun Pergiwatu, Kalurahan Srikayangan, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo menjadi upaya warga untuk mendulang rupiah di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.

Anggota KWT Putri Manunggal, Nurhayati, mengatakan, produk olahan bawang yang diinisiasi oleh KWT Putri Manunggal adalah upaya alternatif dari warga selain menjual bawang merah basah maupun kering.

"Kami menjual produk olahan bawang goreng yang memiliki nilai jual tinggi dengan merek Superbram sejak tahun 2018 lalu. Kami sadar pelaku usaha makanan olahan dituntut bisa berkreasi dan berinovasi agar mampu menangkap peluang yang ada, sehingga produk buatan kamj mampu bersaing di pasaran," kata Nurhayati pada Rabu (19/5/2021).

BACA JUGA : Kisah KWT di Jogja Manfaatkan Lahan Sempit Tanam

Produk Superbram besutan KWT Putri Manunggal disediakan dalam sejumlah varian. Di antaranya, mulai dari original, crispy dan pedas. Dari ketiga rasa ini, kata Nurhayati, konsumen paling menyukai rasa original yang biasanya dipakai untuk bahan tambahan memasak atau sebagai penambah rasa saat makan.

"Saat membuat produk Superbram, kami menghabiskan bahan baku bawang merah sekitar 100 sampai dengan 150 kilogram. Dari jumlah tersebut, mampu dihasilkan sekitar 20 sampai dengan 25 kilogram bawang goreng. Setelah jadi, bawang goreng tersebut kemudian dikemas dalam berbagai kemasan baik dalam bentuk pouch dan toples," kata Nurhayati.

Untuk harga, Superbram dibanderol dengan nominal yang bermacam-macam. Di antaranya, mulai dari kemasan 75 gram hingga 200 gram yang dipatok dengan harga mulai dari Rp20 ribu sampai dengan Rp45 ribu. Akan tetapi, konsumen juga diperbolehkan untuk membeli secara curah dengan harga berkisar Rp150 per kilogram.

BACA JUGA : Terdampak Covid-19, Produksi Olahan Cabai Kelompok

"Untuk menjaga kualitas, kami menggunakan spinner. Tujuannya adalah untuk mengeringkan minyak dari bawang goreng. Sehingga, saat dikemas ke dalam kemasan pouch atau toples, tidak ada minyak yang mengendap di bagian bawah kemasan," kata Nurhayati.

Bagian Pemasaran KWT Putri Manunggal, Agus Jiyono, mengatakan produksi besutan warga dusun Pergiwatu tersebut sudah dijual di berbagai toko swalayan yang ada di Bumi Binangun.

Salah satunya adalah Tomira, kemudian toko yang berada di bandara YIA seperti galeri Kotagede dan Tomira yang berada di dalamnya. Diharapkan, produk Superbram mampu bersaing di pasaran sehingga mendorong perekonomian warga di kalurahan Srikayangan.

"Untuk pangsa pasar kami selain menyasar toko-toko oleh-oleh maupun swalayan yang ada di DIY, kami juga mengirimkan produk Superbram ke warga perantauan Kulonprogo di Jabodetabek melalui Gayeng Regeng Blonjo Bareng," kata Agus.