Terdampak Covid-19, Produksi Olahan Cabai Kelompok Wanita Tani Turun Drastis

KWT Melati di Dusun Kretek, Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon, Kulonprogo mengolah cabai menjadi abon cabai, Selasa (18/8/2020). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri.
19 Agustus 2020 09:17 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap kelangsungan produksi olahan tanaman cabai di Kulonprogo. Sejumlah adaptasi dilakukan produsen supaya olahan tanaman cabai tetap diminati kalangan pecinta olahan cabai.

Hal ini dialami Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di Dusun Kretek, Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon, Kulonprogo. KWT yang fokus pada pengolahan tanaman cabai menjadi abon cabai ini mengaku mengalami penurunan produksi selama Covid-19.

BACA JUGA : Lagi, Kelompok Tani Kopi di Kulonprogo Bakal Dapat 

"Sejak Covid turun drastis penjualannya. Abon cabai turun 70%. Sebelum Covid padahal omzet bisa mencapai Rp9 juta perbulan. Jadi saya nutup dengan mengangkat produk olahan yang basah, yaitu sambal," kata Ketua KWT Melati, Titin Kusnawati, 50, pada Selasa (18/8/2020).

Menurutnya, setiap lima kilogram cabai basah bisa ia olah menjadi sembilan ons cabai kering. Sebelum pandemi Covid-19, ia bersama 20 anggota KWT Melati bisa memproduksi 100 botol abon cabai berukuran 150 gram.

"Sebelum Covid, perhari bisa mengolah sampai 25 kilogram kering. Saat kondisi Covid ini hanya 5 kilogram seminggu," kata Titin.

Penurunan produksi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh berhentinya penyaluran bubuk cabai ke sejumlah rumah makan yang tutup saat pandemi. Selain itu, ia juga kesulitan mengandalkan pemasaran melalui toko oleh-oleh, karena selama pandemi toko oleh-oleh sepi pengunjung bahkan terpaksa tutup.

Meski begitu, Titin optimistis bisa tetap bertahan dengan mengangkat produk olahan cabai basah yaitu berbagai sambal seperti sambal petai dan terasi. Ia juga berupaya menggenjot pemasaran melalui media sosial supaya menjangkau pasar di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo, Juliwati menuturkan bahwa tak hanya KWT olahan cabai yang terdampak Covid-19,  melainkan banyak sektor lainnya juga terdampak. Namun, ia berupaya tetap melakukan pendampingan supaya KWT pengolah cabai bisa bertahan di tengah pandemi dengan melakukan inovasi produk sesuai minat pasar.

"Kebetulan KWT pengolah cabai di Kulonprogo baru ada ini [KWT Melati]. Tapi saat ini kami sedang pelatihan di beberapa kapanewon, supaya yang lain juga bisa berkembang. Karena tidak mudah melakukan olahan cabai, perlu lihat pasar dulu seperti apa minat konsumen. Nggak semua langsung bisa langsung diolah," urainya.

BACA JUGA : Petani Muda Siap Kembangkan Olahan Tanaman Cabai

Menurutnya, lahan pesisir khusus tanaman cabai saat ini seluas 2.400 hektare. Hasil panen dari lahan pesisir ini umumnya dipasarkan ke Pasar Induk Jakarta. "Ada permasalahan saat pandemi ini, turun harga," katanya.

Kasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Bidang Hortikultura DPP Kulonprogo, Jayeng Purwadi menambahkan saat ini pola pikir yang dipegang kelompok tani harus mulai mengacu pada agribisnis. Sehingga, anggota kelompok tani tak hanya dituntut untuk bisa menanam tanaman, melainkan juga memasarkannya.

"Jangan hanya menanam, ada solusi agribinsis. Yang dipegang pemasarannya dulu," kata dia.