Warga Kulonprogo Diminta Siap Hadapi Dampak Sosial Pembangunan Kawasan Aerotropolis

Suasana bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada Sabtu (1/5/2021). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
26 Mei 2021 13:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Warga Kulonprogo diminta untuk mampu beradaptasi menghadapi perubahan sosial yang bakal terjadi terkait dengan pembangunan kawasan aerotropolis. Perubahan sosial yang dimaksud adalah perubahan dari masyarakat tradisional agraris ke masyarakat yang lebih berorientasi ke sektor industri dan pariwisata.

Hal tersebut disampaikan Bupati Kulonprogo Sutedjo saat menjadi pembicara pada workshop pengembangan model penyiapan masyarakat menghadapi era aerotropolis Kulonprogo yang diadakan oleh Dinas Sosial PPA dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Yogyakarta, yang berlangsung di Ruang Rapat Sermo Kompleks Pemkab Kulonprogo, Selasa (25/5/2021).

Menurut Sutedjo, dampak perkembangan bandara Yogyakarta International Airport (YIA) adalah pengembangan aerotropolis (airport city) atau kota bandara. Oleh karena itu, kesiapan warga masyarakat menggunakan unsur penguasaan aset material, penguasaan aset sumber intelektual dan penguasaan aset ideologi untuk menghadapi perubahan yang bakal terjadi menjadi penting adanya.

Baca juga: Ilmuwan Prediksi 10 Tahun ke Depan, Covid-19 Lebih Mirip Pilek Musiman

"Harapannya, selain kesiapan masing-masing instansi, masyarakat, hingga konsep perencanaan (masterplan) yang matang akan menjadikan Kulonprogo sebagai kota bandara atau aerotropolis yang memberikan manfaat positif bagi masyarakatnya," kata Sutedjo pada Rabu (26/5/2021).

Sebagai informasi, aerotropolis didefinisikan sebagai sebuah kota dengan tata letak, infrastruktur, dan sektor ekonomi berpusat pada bandar udara (bandara) sebagai kota bandara. Seperti halnya konsep kota metropolis, konsep kota aerotropolis pun memiliki kawasan suburban atau pinggir kota.

Dijelaskan Sutedjo, bahwa kondisi masyarakat awal sebelum dibangunnya bandara YIA adalah masyarakat yang cenderung tradisional agraris dan memiliki karakteristik tertentu, yaitu sebagian besar bekerja di bidang pertanian sebagai petani dan buruh tani.

Baca juga: Belanja Gunakan Uang Palsu, Suami Istri Diringkus Polsek Jetis

Namun, setelah dibangunnya bandara YIA terjadi perubahan sosial menuju masyarakat industri dan pariwisata yang memiliki karakteristik khusus sesuai dengan perkembangan zaman, teknologi, dan informasi.

"Masyarakat mau tidak mau harus siap, keberadaan dan perkembangan YIA adalah momentum yang sangat strategis dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kulonprogo, akan tetapi tetap tidak meninggalkan kearifan dan budaya lokal," imbuh Sutedjo.

Sementara itu, Koordinator Standarisasi dan Sosialisasi Pelayanan Kesejahteraan Sosial B2P3KS Yogyakarta, Luswihadi, menyampaikan workshop bertujuan sebagai validasi terhadap draf model penyiapan masyarakat menghadapi era aerotropolis Kulonprogo sebagai hasil investigasi dan asesmen sosial B2P3KS Kemensos RI pada tahun 2019-2020 untuk diujicoba kelayakannya secara empirik pada kondisi masyarakat tertentu.

"Melalui workshop ini diharapkan tumbuh dukungan dari pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat warga kabupaten Kulonprogo terhadap kegiatan ujicoba draf model penyiapan masyarakat menghadapi era aerotropolis Kulonprogo," kata Luswihadi.

PT Angkasa Pura I Siapkan Lahan Airport City Seluas 85 Hektare

Pembangunan airport city di bandara YIA tak luput menjadi perhatian PT Angkasa Pura (AP) I (Persero). Luas lahan sekitar 85 hektare yang dimiliki oleh Bandara YIA nantinya bakal disulap menjadi airport city yang berorientasi pada kegiatan kebandarudaraan dan mendukung kegiatan bisnis sehingga mampu menjadi destinasi wisata baru di Kulonprogo.

Dalam pengembangan Airport City di kawasan bandara YIA sendiri, PT Angkasa Pura (AP) I (Persero) bekerjasama dengan PT Angkasa Pura Property (APP) sebagai anak perusahaannya. Angkasa Pura Property sendiri didirikan untuk mengembangkan lahan milik PT Angkasa Pura I baik di dalam maupun di luar area bandara.

Area Manager II Angkasa Pura Property (APP) Ardiaz Kamil Nuryadin, mengatakan dalam pengembangan bandara YIA, APP fokus melakukan pendayagunaan lahan seluas sekitar 85 hektare yang merupakan bagian dari masterplan bandara YIA.

Adapun, pengembangan lahan tersebut akan berkonsep airport city yang berorientasi pada kegiatan kebandarudaraan dan mendukung kegiatan bisnis yang mampu menjadi destinasi wisata baru

"Pada tahap ini, APP masih dalam proses pencarian mitra dan penyusunan kelayakan proyek untuk menjamin keberlanjutan kegiatan usaha di airport city dalam jangka panjang," ujar Ardiaz saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Saat ini, pengembangan bandara YIA menjadi airport city masih fokus pada tahap awal pengembangan. Di antaranya, terkait dengan urusan perijinan dan pembangunan infrastruktur, utilitas, dan pematangan lahan seluruh kawasan.

Konsep yang diusung oleh APP terkait airport city di YIA sendiri dikatakan oleh Sulung menggunakan konsep integrated facilities. Airport city sendiri di sejumlah negara mulai menjadi primadona destinasi wisata. Seperti di Incheon, Korea Selatan, misalnya, aerocity mengedepankan pasar komersial atau bisnis.

"Airport City YIA direncanakan dalam konsep integrated facilities yang berorientasi pada kegiatan kebandarudaraan maupun sebagai destinasi wisata baru bagi kawasan Kulonprogo dan DIY pada umumnya," kata Ardiaz.

Dengan lahan seluas 85 hektare, Angkasa Pura Property berencana untuk mengembangkan lahan tersebut ke dalam sejumlah klaster. Pengembangan yang ditujukan terhadap bandara YIA diharapkan dapat menarik pasar tidak hanya dari kota atau kabupaten setempat. Akan tetapi, juga dapat menjadi pusat kegiatan cultural and leisure dalam skala nasional maupun internasional.

"Hal inilah yang rencananya akan diimplementasikan oleh lima klaster yang nantinya bakal dibangun di kawasan airport city di bandara YIA. Klaster yang direncanakan di antaranya klaster Hotel MICE, Cluster Office & Residential, Cluster Warehouse & Logistic, Cluster Amenities, dan Cluster Theme Park," kata Sulung, sapaan akrab District Manager II Angkasa Pura Property (APP) ini.

Pembangunan Aerocity YIA sendiri sampai dengan tahap sekarang ini masih dilakukan secara bertahap. Pembangunan akan dilakukan bertahap menyesuaikan minat dan serapan pasar. "Estimasi pembangunan secara tuntas direncanakan dalam jangka waktu lima tahun dengan operasional kegiatan bertahap," kata Ardiaz.

Pemerintah kabupaten Kulonprogo juga menjadi aktor yang tidak luput ikut digandeng oleh APP. Sejumlah kerjasama bisa dikembangkan oleh kedua belah pihak dalam pengembangan kawasan airport city di bandara YIA.

"Termasuk penyediaan infrastruktur dan utilitas kawasan dapat melibatkan badan usaha milik daerah (BUMD) untuk menjamin layanan kepada pengguna kawasan airport city. Lebih lanjut, integrasi layanan juga bisa dioptimalkan jika Pemerintah Kabupaten Kulonprogo telah memiliki rencana tata kawasan yang lebih makro," ujar Ardiaz.

Secara umum, Sulung menilai jika airport city di bandara YIA dapat meningkatkan konektivitas destinasi wisata maupun konektivitas supply chain dan logistic system yang terintegrasi, sehingga diharapkan dapat menciptakan nilai tambah bagi kawasan.

"Bagi pengelola airport, airport city YIA diharapkan mampu menjadi crowd puller yang mampu menciptakan kegiatan komersial yang independen dan membantu mengurangi ketergantungan kegiatan aeronautikal," kata Ardiaz.

"Dengan beroperasinya secara ultimate airport city YIA nantinya, diharapkan dapat menjaga stabilitas tingkat kunjungan ke airport dalam kegiatan usaha yang berkorelasi dengan airport," sambung Ardiaz.