Operasi Mata Selesai dalam Hitungan Menit dan Tanpa Rasa Sakit

Pelaksanaan bakti sosial operasi Katarak dan Pterygium di RS Mata YAP, Rabu (26/5/2021). - Ist/YAP.
27 Mei 2021 07:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Rumah Sakit DR Yap menggunakan alat canggih dengan teknologi Centurion Active Sentry untuk operasi mata yang bisa selesai dalam waktu delapan menit dan tanpa rasa sakit. Alat ini untuk pertama kalinya dioperasikan saat memberikan layanan bakti sosial Operasi Katarak dan Pterygium pada Rabu (26/5/2021).

Ketua Yayasan Dr Yap Prawirohusodo GBPH Prabukusumo menjelaskan alat dengan teknologi Centurion Active Sentry ini baru pertama kali digunakan pada baksos operasi katarak yang digelar dalam rangkaian HUT ke-98 RS Mata Dr.YAP. Adapun harga alat dengan kisaran harga Rp1,8 miliar itu mampu memperpendek durasi operasi dan mengurangi rasa sakit pada pasien.

BACA JUGA : Angka Kebutaan Tinggi, Puluhan Pasien Katarak Difasilitasi

“Dengan menggunakan alat ini jadi lebih efektif, layanan pasien lebih cepat, kalau menurut dokter satu pasien hanya sekitar delapan menit. Selain itu tidak perlu dijahit,” kata Gusti Prabu dalam rilisnya.

Sebanyak 30 pasien mata yang dioperasi menggunakan alat tersebut, terdiri atas 20 pasien katarak dan 10 pasien pterygium. Mereka berasal dari DIY dan Jawa Tengah dari kalangan keluarga prasejahtera. Pelaksanan dimulai dari screening pra-operasi yang dilaksanakan oleh perawat dan dokter spesialis mata RS Mata "Dr. YAP". Pasien juga mendapat pengobatan, dan pemberian kacamata.

Direktur RS Mata DR Yap Alida Lienawati menambahkan kecanggihan alat tersebut bisa membuat pasien lebih nyaman saat dioperasi. Karena luka sayatan sangat kecil hanya 1,8 milimeter saja, berbeda dengan alat sebelumnya yang lebih harus menghasilkan luka lebih lebar antara 5 sampai 10 milimeter.

“Dengan minimnya sayatan tentu berdampak pada kenyamanan pasien, seperti tidak terasa sakit, karena dengan minimnya sayatan maka tidak terlalu banyak mengenai titik saraf yang membuat rasa sakit dan prosesnya menjadi lebih cepat,” ujarnya.

BACA JUGA : Indonesia Bakal Dilanda Tsunami Katarak Pada 2030

Ia menambahkan, setelah operasi pasien bisa beraktivitas seperti biasa dengan menggunakan alat pelindung mata agar tetap steril. Selanjutnya sehari setelah operasi, pasien bisa melakukan kontrol perkembangan hasil operasi. “Teknologinya dengan membersihkan katarak,” ujarnya.

Alida mengingatkan, kebutaan dan gangguan tajam penglihatan merupakan masalah kesehatan yang terjadi di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Secara global tercatat 37 juta orang mengalami kebutaan dan 161 juta menderita gangguan tajam penglihatan.

Angka kebutaan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia. Pemeriksaan dan deteksi dini gangguan mata menjadi hal yang sangat penting dan perlu dilakukan agar permasalahan pada mata dapat diketahui dan ditangani seawall mungkin.

“Keterlambatan pendeteksian berarti keterlambatan terapi sehingga akan berdampak pada kualitas penglihatan dan aktivitas sehari-hari pasien,” katanya.