Keterlibatan Pemuda dalam Mitigasi Bencana Sangat Dibutuhkan

Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto saat menyampaikan materi pada kegiatan Pembinaan Pemuda Desa tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Bantul, di RM Parangtritis, Jumat (4/6/2021). - Harian Jogja/Jumali
04 Juni 2021 16:07 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Keterlibatan pemuda dalam penanganan bencana sangat dibutuhkan. Sebab, kecepatan akses dan pemahaman terhadap bencana akan membuat mitigasi bencana bisa dioptimalkan.

Kepala Badan Penanggulangan Benana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengatakan Bantul memiliki banyak potensi bencana berupa gempa bumi, tsunami, kebakaran, longsor, pohon tumbang dan berbagai bencana lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesepahaman dan pemaksimalan potensi yang ada untuk mitigasi bencana. Salah satunya adalah pemuda.

"Kami berharap tentunya teman-teman [pemuda] untuk aktif terlibat dan ikut menanggulangi bencana," kata Dwi, pada kegiatan Pembinaan Pemuda Desa tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Bantul, di RM Parangtritis, Jumat (4/6/2021).

Menurut Dwi, terdapat tiga hal yang perlu dipahami kalangan pemuda terkait penanggulangan bencana. Ketiganya dibagi dalam pra atau sebelum bencana, saat bencana dan sesudah bencana terjadi. Untuk sesi prabencana, banyak yang dapat dilalukan kalangan pemuda.

Dwi menyatakan porsi terbesar saat ini yang bisa dilakukan adalah mencegah agar bencana tidak terjadi. Peran pemuda untuk mencegah terjadinya bencana sangat penting.

"Untuk itu kami minta teman-teman mendorong gerakan sebelum terjadi bencana," kata dia.

Untuk pendalaman materi dan mengasah mitigasi kebencanaan, Dwi mengungkapkan, para pemuda bisa  bergabung dengan kelompok-kelompok yang selama ini konsen menangani bencana, seperti Destana, Forum Pengurangan Risiko Bencana dan komunitas kebencanaan lainnya. Selain itu, pemuda juga bisa mengikuti atau menggelar simulasi penanggulangan bencana.

Mereka juga dapat terlibat dan dilibatkan dalam berbagai rapat dan pelatihan. Mitigasi bencana yang dilakukan juga termasuk menyediakan jalur evakuasi.

"Harapannya saat bencana datang teman-teman nantinya terlibat dalam kegiatan evakuasi," terangnya.

Dwi menyatakan pemuda bisa terlibat membuat pendataan kerusakan dan penanganannya. Data-data kerusakan dan korban bencana kemudian disampaikan kepada instansi terkait atau ke pemerintah desa. "Data ini dibutuhkan untuk penyaluran bantuan nantinya," ucapnya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi dan informasi harus juga disikapi oleh pemuda dalam upaya mencegah terjadinya bencana.

Para pemuda harus mampu mendapatkan sumber informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Setelah mendapatkan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, diharapkan para pemuda ini bisa menyampaikan di berbagai forum terkait dengan pencegahan dan mengatasi bencana.

"Di samping itu, kami minta teman-teman untuk memperluas jaringan," harapnya.

Sementara, salah satu wakil dari Karangtaruna Kalurahan Sidomulyo, Bambanglipuro, Soni, mengatakan selain tergabung dalam karangtaruna, dirinya juga bergabung dalam FPRB. Meski demikian, diakuinya persoalan mitigasi bencana belum sepenuhnya bisa dijalankan secara optimal.

Salah satunya adalah di Sidomulyo, Bambanglipuro. Sebab, sampai saat ini, kata dia, belum ada peta potensi bencana. Padahal peta ini penting, sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat.

"Terus terang kalau di tempat kami kesulitan untuk membuatnya. Sebab keterbatasan SDM. Kalau diserahkan relawan ya susah. Sebab, harus ada penjelasan masing-masing padukuhan," ujar dia.