Setelah Bali, Work from Jogja Bisa Terwujud karena Punya Infrastruktur dan Kekayaan Wisata

Kegiatan talkshow "Mungkinkah Work from Jogja Terwujud selama Pandemi?" yang digelar Harian Jogja secara virtual, Jumat (4/6/2021). - Ist/Harian Jogja
05 Juni 2021 06:47 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Kegiatan work from Jogja sangat mungkin dilakukan di tengah Pandemi Covid-19 ini, sebab Jogja memiliki fasilitas yang mendukung aktivitas tersebut. Selain itu, adanya potensi dan fasilitas wisata bisa mendukung guna menggerakkan perekonomian.

Hal itu terungkap dari kegiatan talkshow "Mungkinkah Work from Jogja Terwujud selama Pandemi?” yang digelar Harian Jogja secara virtual, Jumat (4/6/2021).

Narasumber pertama, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY, Marlina Handayani mengatakan jika melihat potensi 3A yang dimiliki Jogja, yakni accesibilities, amenities dan attractions, maka work from Jogja bisa dilakukan. "Terlebih tujuannya menggerakkan perekonomian industri pariwisata. Atraksi, DIY punya banyak destinasi tersebar di 4 kabupaten dan satu kota, sekarang sudah 127 destinasi yang buka, ada pula atraksi culture dan budaya," katanya.

Baca juga: Kemenag Bantah Terburu-buru Batalkan Pemberangkatan Haji 2021

Dari amenities atau sarana prasarana, Jogja punya 400 hotel dan restoran, total non bintang mencapai 1.800 hotel. Beberapa hotel bintang lima sudah siap dengan standar internasional. Selain itu, ada sekitar 133 homestay di yang tersebar di 140 desa wisata yang juga ikut menjadi daya tarik.

Karenanya, menurutnya DIY menjadi provinsi paling aman karena akses lebih mudah dan lebih dekat dengan Jakarta. "Memang semua kembali bagaimana dinamika Covid-19, tapi kami optimis bisa wujudkan work from Jogja, karena penerapan prokes di sini bisa diacungi jempol, kita sudah kerjasama dengan gugus Covid untuk tegakkan prokes," katanya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono sebagai narasumber kedua mengatakan dari sisi kesiapan, work from Jogja sangat mungkin dilakukan. PHRI DIY dari awal pandemi sudah menyiapkan semua sarana prasarana, salah satunya membuat standar operasional prosedur (SOP) untuk hotel yang akan buka di masa pandemi. Hotel dan resto yang buka harus menerapkan prokes, dan kalau tidak siap, dilarang buka.

Baca juga: Nagita Slavina Jadi Ikon PON Papua Picu Kontroversi, Begini Penjelasan Menpora

"Kita sudah lakukan tiga hal, verifikasi prokes, sertifikasi CHSE [Clean, Health, Safety & Enviromental) oleh Kemenparekraf, dan ketiga, semua pelaku wisata sudah tervaksin. Ini menunjukkan kesiapan kita dalam hal menyambut work from Jogja," katanya.

Pada libur Lebaran lalu, okupansi hotel di DIY hanya 7% sehingga anggota PHRI sangat terpuruk. Setelah wisata dibuka pada 17 Mei, ada peningkatan tajam sebanyak 30% dan rata-rata okupansi menjadi 40-50,8%. Meski demikian, ia menegaskan agar anggotanya jangan lengah dengan prokes sehingga jangan sampai ada klaster baru.

Anggota Komisi A DPRD DIY, R. Stevanus C. Handoko mengingatkan dalam merujudkan work from Jogja, hal paling penting infrastruktur untuk kerja. Pekerja dari Jakarta, Bandung dan daerah lain, membutuhkan infrastruktur terkait dengan kerja. Hal terpenting adalah jaringan internet harus terjamin.

"Saya pernah perkunjung ke sejumlah hotel di Jogja, dan melihat hotel-hotel itu nyaman untuk kerja. Tidak hanya kamar yang nyaman, hotel juga bisa bisa menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong. Apalagi, beberapa tempat wisata juga tidak kalah dengan Bali. Pekerja bisa bekerja di tepi pantai, tidur di hotel lalu siangnya berwisata di Jogja bahkan sambil kerja. Jadi Jogja cocok untuk menjadi homebase kerja," tegasnya.