UGM Beri Voucer Makan Gratis untuk 47 Mahasiswa Korban Gempa NTT
UGM memberikan voucer makan gratis untuk 47 mahasiswa terdampak gempa NTT yang bisa diambil dua kali sehari selama masa darurat.
Ilustrasi. /ANTARA FOTO-Aloysius Jarot Nugroho
Harianjogja.com, BANTUL - Kurang lebih setahun proses belajar dari rumah diterapkan, tidak terjadi fenomena siswa-siswa putus sekolah di Bantul. Sistem pembelajaran daring yang fleksibel dipadukan dengan luring dinilai jadi kunci penekan angka siswa putus sekolah di Bantul.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bantul, Isdarmoko pada Jumat (4/6/2021) menegaskan hingga saat ini hanya satu siswa dari jenjang SMP yang mengundurkan diri. Itu pun siswa yang bersangkutan merasa jenuh menjalani sekolah dari rumah, bukan karena tidak mampu melaksanakan pembelajaran daring.
"Siswa SMP tersebut memang menyatakan dia jenuh. Yang jelas itu tadi, kalau moda pembelajaran jarak jauh baik luring maupun daring, anak-anak jenuh juga. Satu tahun lebih tidak ketemu guru, karena kejenuhan, bosan. Dia juga tidak ketemu temannya akhirnya malas. Jadi bukan masalah kaitannya dengan online atau tidak online kalau itu," tandasnya.
Baca juga: Pekan Depan, Pedagang Pasar di Sleman Mulai Diberi Vaksin Covid-19
Selama ini Disdikpora Bantul menggabungkan pembelajaran daring dan luring sesuai kemampuan siswa. "KBM di Bantul ini dominannya kombinasi antara online dan offline. Jadi kita untuk yang jenjang SD dominannya luring," ujarnya.
Adapun sistem luring yang dimaksud Isdarmoko yakni guru memberi tugas kepada siswa yang bisa diambil ke sekolah oleh wali atau orang tua setiap sepekan sekali. Selanjutnya, tugas dikumpulkan di pekan berikutnya beserta mengambil tugas yang baru untuk pekan tersebut. "Ada juga yang model Whatsapp Group jadi enggak model online murni tapi semi murni. Tugasnya dikirim ke WA orang tua, nanti tugasnya dikumpulkan boleh WA, boleh langsung ke sekolah," ujarnya.
"Kita memang di Bantul kondisinya memang tidak bisa kalau mau idealis online semua, enggak bisa. Dominan offline kalau SD, kalau yang SMP kombinasi keduanya bisa. Jadi enggak ada fenomena putus sekolah di Bantul," tambahnya.
Baca juga: Dampak Libur Lebaran Terlihat, Kasus Covid-19 Naik 15,1%
Bila dipersentasekan, Isdarmoko menyebut 50 persen siswa SMP melakukan pembelajaran daring sementara 50 persen lainnya luring. Namun untuk SD, persentase masih didominasi siswa yang menjalankan pembelajaran luring.
"Kita sangat mengakomodasi anak-anak. Pertama saya yang jelas ingin pembelajaran tetap berjalan. Walaupun dengan berbagai model dan kondisi yang ada, tetapi tetap berjalan. Untuk memaksimalkan maka kami punya terobosan dengan Layanan Konsultasi Pelajar dan guru kunjung siswa," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM memberikan voucer makan gratis untuk 47 mahasiswa terdampak gempa NTT yang bisa diambil dua kali sehari selama masa darurat.
DPRD DIY menilai ketahanan pangan harus diukur dari kesejahteraan petani, didukung irigasi, alat pertanian, pupuk, dan regenerasi petani.
Harga sejumlah kebutuhan pokok di Banyumas naik. Cabai rawit merah mencapai Rp75.000 per kg, sementara daging sapi Rp180.000 per kg.
Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut mewarnai suasana Alun-Alun Demak.
PSS Sleman membidik tiga poin saat menjamu Madura United di Stadion Maguwoharjo, Sabtu (12/9/2026), setelah kalah dari Bali.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan masyarakat dapat menyaksikan secara langsung pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026