Hasil Penelitian UGM: Varian Baru Virus Corona Belum Terdeteksi Di DIY

Ilustrasi - Freepik
07 Juni 2021 17:27 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kendati sejumlah kasus Covid-19 di DIY telah memenuhi kriteria pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) atau pelacakan kemungkinan varian baru, sampai saat ini hasil pemeriksaan tersebut belum menunjukkan adanya mutasi virus Corona di DIY.

Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Gunadi, menjelaskan telah menyelesaikan pemeriksaan pada 16 sampel dengan rincian 12 dari Cilacap, satu Sleman, satu Bantul, satu Solo dan satu Jepara.

BACA JUGA: Gara-Gara Tanaman, Ganti Rugi Jalan Tol Jogja-Solo Sisakan Masalah

"Ada varian yang B.14.66.2, sebagian besar B.14.66.2. Itu yang masih kami teliti apakah itu varian lokal Indonesia atau bagaimana, jadi kami masih mendiskusikan itu dengan tim epidemiologi. Kami belum menyimpulkan apakah varian itu yang berdampak pada penyebaran di Cilacap," katanya, Senin (7/6/2021).

Meski demikian ia memastikan sampel tersebut bukan merupakan varian baru dari sejumlah negara lain. "Bukan varian Delta. Kami nyebutnya Delta, tidak boleh menyebut nama negara. WHO sekarang menghindari stigmatisasi, tidak boleh menyebut nama negara asal pertama dideteksi varian itu," kata dia.

Penyebutan varian baru ini pun diganti. Varian Inggris disebut varian Alpa, varian Afrika Selatan disebut varian Beta, varian Brazil disebut varian Gama, dan varian India disebut varian Delta. Empat varian ini yang menjadi perhatian dalam WGS.

Dua sampel dari DIY tersebut hasil pemeriksaannya yakni sampel Sleman bukan termasuk varian Alfa, Beta, Gama atau Delta. Sementara sampel dari Bantul tidak keluar hasilnya karena CT value-nya 33.

"Terlalu tinggi. Kan maksimal 25 ke bawah CT value-nya itu. Jadi kalau terlalu tinggi jumlah virusnya terlalu sedikit untuk di-genome kira-kira," ungkapnya.

Meski demikian, kedua sampel dari DIY ini sudah dipastikan memenuhi dua kriteria untuk WGS, yakni sampel dari Sleman kasusnya meninggal dunia dan saampel dari Bantul merupakan pekerja migran.

Dengan demikian dapat disimpulkan sampai saat ini belum terdeteksi adanya varian baru di DIY. Namun pemeriksaan WGS masih terus berlanjut. Pokja Genetik FKKMK UGM akan melanjutkan pemeriksaan pada 48 sampel pada pekan ini, dengan empat sampel di antaranya dari DIY.

"Sekarang mau running 48 sampel, sebagian juga dari Jogja. Mungkin [elam ini keluar hasilnya. Ini titipan juga dari Kemenkes, sampel dari Kudus. Sekarang Kudus prioritasnya, sekitar 35 sampel kami running," katanya.

BACA JUGA: Seluruh Pesisir Pantai Jawa Timur Berisiko Diterjang Tsunami 29 Meter

Ia menjelaskan dalam sekali pemeriksaan WGS diperlukan waktu setidaknya satu pekan, dengan rincian memasukan sampel dam persiapan tiga hari, masuk mesin satu hari, lalu dibaca satu hari.

Saat ini pihaknya tengah mendiskusikan dengan Kemenkes tentang penyebutan varian lokal atau varian Indonesia oleh peneliti di Inggris. Ada setidaknya tiga varian yang diduga merupakan varian Indonesia karena jumlah frekuensinya lebih tinggi di Indonesia, yakni B.14.66.2, B.1.470 dan B.1459.

"Karena ternyata frekuensinya di Indonesia menguasai lebih dari 70 persen dari sejumlah global gitu, ya katakanlah 500 sekian sampel, itu 70 sekian persen ditemukan di Indonesia, sehingga ia [peneliti di Inggris] menduga apakah ini varian lokal," katanya.

Jumlah sampel di Indonesia kata dia, baru sekitar 1.800 dari jumlah total sampel di seluruh dunia yakni 1,8 juta, sehingga baru sebesar 0,1%. "Jadi kalau mau menyimpulkan masih sulit. 0,1 persen dari total jumlah sampel di dunia kan masih sangat disedikit. Jadi untuk menyimpulkan masih harus hati-hati," ungkapnya.