BPBD DIY Beri Edukasi tentang Potensi Bencana Tanah Longsor di Gunungkidul

(ki-ka) Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana saat pembinaan pemuda desa, tentang penanggulangan bencana di Gunungkidul, Senin (7/6/2021). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
07 Juni 2021 18:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY membina pemuda desa dalam penanggulangan bencana di Gunungkidul, Senin (7/6/2021).

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana mengatakan kegiatan ini dilakukan di berbagai wilayah di Gunungkidul untuk memberikan literasi dan edukasi kepada masyarakat terkait penanggulangan bencana.

“Kami sesuaikan ancamannya, kalau di Gunungkidul potensi tanah longsor salah satunya. Harapannya bisa membangun pemahaman pada masyarakat, terkait potensi ancaman yang ada di wilayahnya,” ucap Biwara seusai kegiatan di Rumah Makan Bu Tiwi Tan Tlogo, Semanu.

Masyarakat yang paham terkait potensi ancaman bencana di wilayahnya diharapkan bisa mengambil langkah antisipatif atau mitigasi, mulai dari menyelamatkan keluarganya hingga membantu ke tingkat kalurahan.

Biwara juga mengharapkan salah satu ancaman yaitu tanah longsor di Gunungkidul, dapat diantisipasi mulai dari sekarang, atau jauh sebelum masuk musim penghujan nanti. “Kemarau ini kesempatan melakukan upaya antisipasi. Intinya membangun kesiapan masyarakat. Luweng-luweng dibersihkan, agar aliran air hujan tidak terhambat,” ujarnya.

Dia mengatakan BPBD DIY juga mendorong peran generasi muda, dalam upaya penanggulangan bencana. Diharapkan dengan peran generasi muda juga dapat memberikan edukasi lebih luas ke masyarakat.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki dalam pemaparan materinya menjelaskan Gunungkidul terdiri dari tiga bentang alam yang berbeda. Zona utara, pegunungan batur agung, dengan potensi bencana rawan longsor, puting beliung, banjir, petir, dan kebakaran. Zona tengah dataran Wonosari, dengan potensi rawan kebakaran, puting beliung, petir, sementara zona selatan atau kawasan karst dengan potensi bencana yang mungkin terjadi yaitu rawan kekeringan, puting beliung, petir, tsunami atau gelombang pasang.

“Kami upayakan meningkatkan kapasitas masyarakat agar jadi agen, seperti pertemuan ini. Kami bentuk kalurahan tangguh bencana. Adanya kalurahan tangguh bencana ini diharapkan nanti ada peta yang menunjukan potensi bencana, dan masyarakat tahu evakuasinya seperti apa,” ucap Edy.

Diharapkan dengan begitu kesadaran masyarakat semakin tinggi. Seperti salah satunya adanya potensi tanah longsor, masyarakat menjadi tahu hal-hal apa yang harus dilakukan ketika berada di daerah potensi longsor, saat hujan lebat dengan durasi yang panjang.

Pembicara dalam diskusi, yang merupakan Dosen Teknik Geologi UGM, Didit Hadi Barianto menjelaskan untuk antisipasi bencana gerakan tanah sebelum terjadi bencana, pertama mengenali lokasi atau lereng yang rentan gerakan tanah, memetakan dan memasang rambu. Kedua, mengatur dan memperbaiki drainase lereng, ketiga memperbaiki lereng. Keempat, rekayasa vegetatif. Kelima, memasang alat tukar hujan sederhana.

“Keenam pada lereng rentan dihindari membuat kolam, menggenangkan air, menggali atau memotong atau menggetarkan lereng, menanam atau menebang pohon secara sembarangan. Ketujuh, mengenali gejala awal pergerakan,” ucap Didit.

Kemudian saat terjadi bencana, pertama menutup daerah bencana terutama saat hujan, kedua lebih waspada pada lereng yang berbakat berpotensi bergerak lagi. Ketiga, menyingkir sementara dari lereng yang rentan terutama saat hujan. Kemudian setelah terjadi bencana, pertama perbaikan lereng atau rekayasa teknis, kedua perbaikan atau pengaturan drainase, dan ketiga rekayasa vegetatif.

Didit juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait potensi dan antisipasi bencana. Pendidikan terkait hal itu, harus dilakukan sedini mungkin.