GUGUR GUNUNG EKONOMI DIY: Berinovasi dengan Memanfaatkan SDA untuk Bangkit

Diskusi Panel yang diselenggarakan Harian Jogja bertajuk Gugur Gunung Percepatan Pemulihan Ekonomi Perekonomian DIY, Rabu (9/6 - 2021). - Harian Jogja / Sunartono.
10 Juni 2021 08:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Letak geografis atau kondisi alam menjadi kunci penting bagi pemerintah kabupaten Kulonprogo untuk bangkit dari pandemi Covid-19. Kondisi alam yang variatif di bumi binangun diharapkan mampu dimanfaatkan secara optimal oleh sejumlah pelaku usaha di berbagai sektor.

Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan wilayah kabupaten Kulonprogo memiliki potensi geografis yang cukup lengkap. Mulai dari wilayah pegunungan, dataran rendah, dan wilayah pesisir yang bisa dimanfaatkan oleh sejumlah sektor untuk bisa mendongkrak perekonomian di bumi binangun selama pandemi Covid-19.

BACA JUGA : GUGUR GUNUNG EKONOMI DIY: Lima Pilar Harus Bergerak Bersama

"Kulonprogo oleh Tuhan Yang Maha Kuasa diberikan potensi geografis yang cukup lengkap. 34 persen wilayahnya pegunungan [menorah] berada di empat kapanewon yakni Kokap, Girimulyo, Samigaluh, dan Kalibawang dari 12 Kapanewon," kata Sutedjo dalam acara diskusi panel yang diselenggarakan Harian Jogja dengan tema gugur gunung untuk percepatan pemulihan ekonomi DIY di hotel harper malioboro pada Rabu (9/6/2021).

Diskusi panel ini dibagi dalam dua termin, pada pertama mengangkat tema khusus yaitu Kolaborasi Pemerintah dan Perbankan Mendorong pemulihan perekonomian DIY. Kemudian diskusi panel kedua bertajuk Investasi sebagai Peta Jalan Pemulihan Perekonomian DIY.

Diikuti oleh para pelaku UMKM, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sejumlah perguruan tinggi, pelaku wisata, pelaku usaha serta sejumlah Kepala Dinas di lingkungan Pemda DIY dan kabupaten serta kota, perwakilan DPRD DIY. Diskusi ini didukung oleh Bank BPD DIY, Badan Otorita Borobudur (BOB), Pemda DIY dan Hotel Harper Malioboro, dengan dimoderatori oleh Presiden Direktur Aksara Dinamika Jogja Arif Budisusilo.

Sutedjo menambahkan pemanfaatan dataran rendah untuk sektor pertanian di wilayah Kulonprogo juga terus digenjot oleh pemerintah kabupaten selaku eksekutor utama dalam peningkatan ekonomi di bumi binangun. Pencetakan sawah baru terus diinisiasi oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

BACA JUGA : GUGUR GUNUNG EKONOMI DIY: Pemulihan Ekonomi Tak Melupakan Aspek Pengendalian Covid-19

Terlebih, Kulonprogo juga dianugerahi wilayah pesisir pantai selatan yang cukup panjang. Tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk sektor pariwisata, akan tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber pertanian.

"Dataran rendah juga cukup luas. Kami rencananya akan mencetak sawah baru seluas 250 hektar. Di situ potensi pertanian terus kami dorong. Pesisir pantai selatan sepanjang 24 kilometer juga menjadi sumber daya alam yang mampu dimanfaatkan. Sehingga potensi geografis dijadikan sebagai sumber bagi pemerintah kabupaten untuk mendapatkan pendapatan asli daerah," kata Sutedjo.

Keberadaan YIA juga dipandang oleh Sutedjo sebagai kekuatan Kulonprogo untuk mendatangkan investasi ke wilayahnya. Selain itu, program nasional seperti kawasan strategis pariwisata nasional yang juga menyasar wilayah kabupaten Kulonprogo menjadi akses penting untuk menggeliatkan ekonomi.

"Kami welcome dengan investor yang ingin menanamkan modalnya di wilayah kabupaten Kulonprogo. Kulonprogo diuntungkan dengan adanya bandara Yogyakarta International Airport. Terlebih, ada KSPN Borobudur yang uga menguntungkan Kulonprogo," kata Sutedjo.