Gelorakan Ekosistem Digital dengan 501 Titik WiFi Publik

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti (kanan) dalam soft launching Penguatan Ekosistem Digital Berbasis Kewilayahan di Taman WiFi Gajah Wong, Umbulharjo, Jogja, Rabu (16/6). (ist - Pemkot Jogja)
17 Juni 2021 07:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembangkan ekosistem digital sampai tingkat RW. Menurut Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti, ekosistem digital ini berbentuk pemasangan WiFi publik di tingkat RW untuk kegiatan masyarakat. Sejauh ini ada 501 titik WiFi publik yang tersebar di Jogja. Sementara untuk target ke depan ada 20 titik WiFi publik di tiap kelurahan. Artinya total target sekitar 900 titik WiFi.

Di masa pandemi Covid-19 ini, sarana prasarana WiFi menjadi hal yang penting. Semua kegiatan, termasuk belajar mengajar peserta didik di Kota Jogja menggunakan sistem daring.

Selain itu, WiFi publik ini juga sebagai sarana masyarakat meningkatkan kegiatan perekonomian, kreativitas, budaya, dan lainnya. Dengan adanya WiFi publik, harapannya juga bisa meringankan beban masyarakat terkait dengan pemakaian kuota Internet, termasuk untuk anak belajar.

“Akan kami kembangkan dalam bentuk pelatihan-pelatihan, mulai aktivitas kreatif berbasis digital dan ekonomi digital berbasis komunitas setempat. Kami ingin mambuat titik WiFi publik sebagai pusat aktivitas pembelajaran digital,” kata Haryadi, dalam soft launching Penguatan Ekosistem Digital Berbasis Kewilayahan di Taman WiFi Gajah Wong, Umbulharjo, Jogja, Rabu (16/6).

Lantaran jumlahnya yang banyak, Haryadi meminta Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfosan) Kota Jogja untuk terus memantau. Jangan sampai 501 titik WiFi ini hidup di pemantauan, namun di lapangan tidak aktif. “Ini bentuknya ekosistem, bukan sekadar WiFi online. Ekosistem adalah sistem yang berwawasan lingkungan,” kata Haryadi.

Menurut Kepala Diskominfosan Kota Jogja, Ignatius Tri Harsono, tingkat pengenalan Internet di Kota Jogja lebih dari 70%. Sementara untuk keterpegangan ponsel pintar berada di angka 1,3. Hal ini berarti satu orang bisa memegang lebih dari satu ponsel pintar. Konsumsi paket Internet dan pulsa juga tergolong tinggi. Dengan adanya 501 titik WiFi publik ini, perkiraan penggunaan Internet masyarakat Kota Jogja akan meningkat.

“Bagaimana supaya keberadaan WiFi publik dan juga jaringan-jaringan komunitas yang sudah merata se-Kota Jogja bisa ditambah nilainya untuk memunculkan aktivitas kreatif dan ekonomi baru bebasis digital,” kata Tri.

Dalam hal ekonomi misalnya, apabila suatu komunitas atau kelompok tertentu membutuhkan sebuah pelatihan, maka mereka bisa mengajukan program ke Diskominfo Jogja. Nantinya akan ada fasilitas pendampingan baik dari mentor atau lainnya untuk berbagi ilmu.

Kegiatan bisa berlangsung campuran, baik luring atau daring dengan memanfaatkan WiFi publik ini. Fasilitas pendampingan ini utamanya untuk komunitas yang sudah terbentuk. Beberapa di antaranya seperti komunitas di Kampung Taman, Ngampilan, dan lainnya.

“Pelatihan tidak selalu klasikal, pelatihan bisa di tempat publik yang ada WiFi-nya. Pesertanya bisa 10-15 orang. Kami tidak mempermasalahkan peserta yang sedikit, kami pilih peserta yang sudah bisa identifikasi kebutuhannya,” kata Tri.

Terkait dengan aktivitas perekonomian, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja Aman Yuriadijaya, saat monitoring Dinas Perdagangan, mengatakan ada dua strategi besar yang jadi fokus. Pertama, adalah pelayanan perdagangan yang berorientasi pada konsumen masyarakat Kota Jogja yang jumlahnya 350.000 orang. Kedua, harus mulai fokus pengembangan sektor perdagangan.

“Yaitu pengembangan perdagangan secara digital dan pengembangan daya tarik ekonomi baru yang mampu menjadi magnet bagi masyarakat Jogja sendiri dan wisatawan,” ujarnya.

Pendanaan WiFi Publik

Selain menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Jogja, pemasangan WiFi publik juga mendapat bantuan dari program corporate social reponsibilty (CSR) perusahaan yang ada di Jogja. Apabila nantinya selaras, narasumber pelatihan juga bisa berasal dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama denga Pemkot Jogja ini.

Tidak hanya itu, Pemkot Jogja juga bekerja sama dengan beberapa universitas agar menempatkan mahasiswa yang Kerja Kuliah Nyata di tempat-tempat yang ada WiFi publik. Hal ini guna terus terkontrol dan ada perbaikan dari gerakan WiFi publik.

“Ada peran lima sektor yang dalam bahasa Gandeng Gendong sebagai wujud kolaborasi pentahelix yang saling menguntungkan,” kata Tri.

Dari berbagai upaya ini, Pemkot Jogja berharap bisa mendorong percepatan aktivitas, mulai dari usaha kecil menengah (UKM), pelaku usaha rumahan, dan kegiatan lain yang bisa membuat masyarakat lebih leluasa. Selain itu, gerakan ini juga langkah untuk menggelorakan penggunaan ponsel pintar yang aman, mengingat penggunanya yang semakin dini umurnya. “Serta muncul pembelajaran secara digital, baik untuk ekonomi, hobi, atau lainnya,” kata Tri. (ADV)