Petani Jangan Terkecoh, Hujan Turun Hanya Bersifat Sementara

Ilustrasi. - Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
18 Juni 2021 14:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul meminta kepada petani untuk tidak terkecoh dengan turunnya hujan akhir-akhir ini. Pasalnya, hujan turun bersifat sementara sehingga penanaman tidak disarankan di musim tanam ketiga ini.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, sudah ada penjelasan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika berkaitan dengan hujan yang turun pada akhir-akhir ini. Fenomena itu terjadi akibat adanya daerah tekanan rendah di sebelah barat Sumatera, hal tersebut memicu terjadinya pertemuan arus angin di barat laut dan timur laut di wilayah Pulau Jawa.

Di samping itu, hujan juga disebabkan karena suhu permukaan air laut di perairan Jawa masih hangat dan menyebabkan kelembaban udara di atas 80%. Dampaknya ada pemadatan awan-awan hingga turun hujan.

“Informasi dari BMKG, fenomena ini akan terjadi selama Juni dan kalau diistilahkan terjadi fenomena kemarau basah,” kata Raaharjo kepada wartawan, Jumat (18/6/2021)

Menurut dia, kemarau basah hanya bersifat sementara sehingga petani harus mewaspadainya. Oleh karenanya, di masa tanam ketiga petani diimbau tidak menanam padi, meski ada hujan yang turun akhir-akhir ini. “Kalau ada sumber air yang cukup, bisa menanam padi. Kalau tidak, lebih baik menanam yang lain seperti kedelai atau kacang hijau,” katanya.

Raharjo mengungkapkan, penanaman padi dengan hanya mengandalkan air hujan tidak bisa diharapkan dan malah bisa merugikan petani. “Jangan karena ada hujan terus tanam padi lagi. Ini sangat berisiko karena sekarang sudah masuk musim kemarau,” katanya.

Baca juga: Terduga Provokator Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19 Tanpa Prokes di Bantul Akhirnya Diperiksa Polisi

Ia menambahkan, bagi petani yang sudah menanam komoditas selain padi, seperti palawija juga diminta melakukan antisipasi adanya fenomena kemarau basah ini. Salah satunya dengan membuat saluran drainanse agar tanaman palawija aman dari genangan.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto. Menurut dia, sejak beberapa tahun terakhir ada kerja sama dengan BMKG untuk pelaksanaan sekolah iklim kepada petani.

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada petani berkaitan dengan iklim, khusunya menyangkut masalah anomaly cuaca. Diharapkan adanya pengetahuan ini petani bisa melakukan antisipasi sehingga lahan pertanian yang digarap tidak mengalami kerugian akibat dari masalah iklim. “Kami terus berupaya memberikan pendampingan kepada para petani,” katanya.