Peringati Jogja Kembali, Dinas Kebudayaan DIY Gandeng Komunitas

Penampilan tarian Jogja Kembali dari Sanggar Seni Candika Adikara Bantul, dalam acara Rembug Sejarah di Dinas Kebudayaan, Kamis (24/6/2021). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
24 Juni 2021 19:57 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan DIY menggelar serangkaian kegiatan Peringatan Jogja Kembali. Dalam kegiatan tersebut Dinas Kebudayaan DIY menggandeng sejumlah komunitas terutama para remaja. Harapannya mendorong generasi muda untuk mengenal sejarah, memahami sejarah, dan memupuk nilai-nilai kesejarahan dari peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Kepala Bidang Pemeliharaan, Pengembangan Sejarah, Bahasa,  Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengatakan peringatan peristiwa Jogja Kembali di antaranya diadakan dalam bentuk pembinaan komunitas himpunan mahasiswa sejarah, rembug sejarah yang menghadirkan berbagai kalangan dari mahasiswa, guru, akademisi maupun komunitas untuk bergabung dalam sebuah wadah yang sama guna berdiskusi dan saling tukar wawasan.

Selain acara rembuk sejarah, sebelumnya Dinas Kebudayaan DIY juga telah melaksanakan lomba poster digital Peringatan Jogja Kembali dengan sasaran siswa setingkat SMA/SMK dan sederajat. Lomba poster dipilih pilih untuk menggali potensi generasi muda dalam menyalurkan bakat, kreativitas untuk menghadirkan kepingan-kepingan informasi sejarah dalam bentuk yang lebih segar.

“Dengan kegiatan tersebut kami berharap dapat semakin memupuk nilai nilai sejarah pada generasi muda. Kami juga berharap dapat menghadirkan wadah-wadah lain untuk berdiskusi, berbagi wawasan dan pengetahuan pada waktu-waktu selanjutnya,” kata Rully, saat membuka acara Rembuk Sejarah: Meneladani Semangat Patriot Bangsa Dalam Peristiwa Jogja Kembali, di ruang Bima, Dinas Kebudayaan DIY, Kamis (24/6/2021).

Rully memaparkan peristiwa Jogja Kembali dipilih untuk diangkat sebagai tema dalam pembinaan komunitas mengingat Jogja Kembali merupakan salah satu peristiwa krusial terjadi di Jogja dalam catatan perjuangan kemerdekaan. Pada 1948 pada sebuah agresi militer Belanda merebut kedaulatan RI dengan menguasai Jogja yang pada waktu itu merupakan ibu kota pemerintahan negara. Pemimpin negara diasingkan

Namun Kraton, rakyat dan tentara menyatukan semangat, kekuatan, dan tekad untuk menunjukan kepada pihak internasional bahwa Indonesia masih ada. Hal ini memuncak pada 1 Maret 1949 yang berhasil melumpuhkan kekuatan militer Belanda. Peristiwa itu mengharuskan Belanda kembali ke meja perundingan dan berujung pada pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia

Perundingan Roem-royen pun digelar, dan setelah melalui negosiasi yang panjang dan salah satu keputusan dari perundingan tersebut, yakni agar Belanda menarik mundur pasukannya dari Jogja. “Peristiwa yang begitu besar kemudian diberi arti tersendiri dengan didirikannya Monumen Jogja kembali,” kata Rully.

Rully harap masyarakat peduli dan mengetahui dalam setahun banyak peristiwa besar salah satunya kejadian 29 juni 1949 yang merupakan puncak penarikan pasukan belanda, awal bukti penegakan kedaulatan, rangkaian peristiwa panjangnya sudah dimulai lama misalnya Pertempuran Plataran pada tanggal 24 Februari 1949 dan Serangan Umum 1 Maret 1949.

“Kami berharap seluruh masyarakat bisa mengetahui cerita lengkapnya .Oh sekarang bisa merdeka, bisa berdiri sebagai bagian dari perjuangan pahlawan dulu, salah satunya kita lakukan meneladani kejuangan nilai nilai nasionalisme digelorakan kembali pada masyarakat, salah satunya melalui kegiatan ini,” ujar Rully.

Kepala Seksi Sejarah Dinas Kebudayaan DIY, I Gede Adi Atmaja, menambahkan alasan Dinas Kebudayan mengangkat tema tersebut ingin memperkaya narasi agar cerita lebih lengkap. Sebab, di buku sejarah hanya peristiwa besar dan tokoh besar yang ditampilkan. Padahal dibalik itu ada tokoh kecil yang diketahui masyarakat. Ini potensi besar siapa masyarakat ikut andil, dimana tempat punya andil, punya kejadian yang bisa mendukung rangkaian kejadian.

Sebelumnya, Dinas Kebudayaan DIY juga mengangkat diskusi tentang peristiwa kecil yang merupakan satu rangkaian dari peristiwa besar, seperti ada Ibu Ruswo yang ternyata mengelola dapur umum.

“Kami angkat dalam sarasehan pada bulan Maret lalu, kemudian ini rembuk sejarah,  nanti akan dilanjutkan dengan Serenade Bunga Bangsa dalam bentuk konser musik yang akan dilaunching pada tanggal 29 Juni melalui youtube Dinas Kebudayaan,” kata I Gede. (***)