Perlu Kolaborasi Masyarakat, Swasta, dan Pemerintah untuk Percepatan Vaksinasi

Diskusi daring Harian Jogja bertema Jangan Takut Vaksin!!! Untuk DIY Segera Bangkit, Senin (26/7/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
26 Juli 2021 14:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kolaborasi antara masyarakat, swasta, dan pemerintah diperlukan dalam percepatan vaksinasi.

Hal ini disampikan oleh Ketua Panitia Vaksinasi Nasional Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Anne Patricia Sutanto, dalam diskusi daring Paniradya Kaistimewan bersama Harian Jogja bertema Jangan Takut Vaksin!!! Untuk DIY Segera Bangkit.

Pemerintah bisa menyiapkan regulasi dan juga sarana prasana termasuk ketersediaan vaksin. Swasta bisa membantu penyelengaraan, dan masyarakat bisa kooperatif dalam menjalankan program.

Covid-19 merupakan penyakit yang gampang menyebar ke orang lain sehingga penanggulangannya juga perlu gotong royong. Hippindo turut membantu Pemerintah Pusat dan juga pemerintah daerah dalam percepatan vaksin dengan sistem kolaborasi. Sejak 7 Juli 2021 lalu, Hippindo bekerja sama dengan berbagai pihak menyelenggarakan vaksinasi, utamanya untuk pelaku usaha kecil menengah (UKM).

“Harus sama-sama melawan Covid-19, semua bisa tertangani apabila publik, privat, dan pemerintah sama-sama bergandeng tangan. Ini penyakit gotong royong, satu kena bisa kena semua. Sialnya yang komorbid dan belum disuntik vaskin resikonya lebih besar. Satu-satunya jalan begotong royong atasi bersama,” kata Anne yang juga Vice President PT. Pan Brothers Tbk, Senin (26/7).

Selain itu, Hippindo juga berupata agar vaksinasi tidak berdasarkan KTP asal. Hal ini agar masyarakat mendapat hak yang sama, bisa disuntik vaksin di mana saja. “Kami sedari awal perjuangkan vaksinasi dengan KTP nasional, semua punya hak yang sama,” kata Anne. “Bisa menerima KTP nasional, virus ini tidak setop di perbatasan daerah.”

Salah satu kolaborasi Hippindo dalam vaksinasi adalah bersama Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop-UKM) DIY. Sejak 23 Juli 2021 sampai lima hari ke depan, vaksinasi dengan sasaran UKM di DIY berlangsung. Ini merupakan vaksinasi massal ketiga dari Dinkop-UKM DIY. Menurut Kepala Bidang UKM, Tatik Ratnasari, dari 300.000 pelaku usaha yang tergabung di sistem Sibakul, targetnya 30% mendapat vaksin.

Pada vaksinasi massal kerja sama dengan HIPPINDO ini, sasarannya sebanyak 50.000 secara bertahap. Ada lima titik vaksinasi di DIY, termasuk di Jogja Expo Center (JEC) dan Pasar Gabusan. “Satu hari harapannya 5.000 dosis [di JEC], harapannya lima hari pelaksanaan sebanyak 25.000 dosis,” kata Tatik. “Di Gabusan lima hari ke depan menyasar 4.000 pelaku UKM.”

Selama hampir sebulan ini, dengan adanya kebijakan PPKM Darurat, banyak pelaku usaha yang tidak bisa berkegiatan. Dengan percepatan vaksinasi ini, setelah PPKM harapannya pelaku usaha bisa sehat dan mencari uang dengan lebih fokus lagi.

Adapun salah satu kendala dari vaksinasi massal ini terkait ketersediaan vaksin. “Terkait ketersediaan vaksin, di bawah mendesak terus, namun mereka harus mengantre. Terus menanyakan kapan kami akan divaksin. Dari 300.000 UKM itu, harapannya semua kami berikan vaksin, tapi prioritas kepada pelaku UKM kecil,” kata Tatik.

Menurut Kasi Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Riastuti Rahayu, ketercapain vaksin dosis pertama mencapai 36,7%dari total masyarakat DIY per 25 Juli 2021. Sementara untuk dosis dua mencapai 14,4%. Sehari rata-rata suntikan vaksin sebesar 14.459 dosis. Jumlah ini akan terus ditingkatkan di angka 20.000 dosis per hari.

Agar kekebalan komunal bisa tercapai, setidaknya 70 persen masyarakat DIY telah vaksin. Namun Dinkes DIY targetkan capaian vaksin sebanyak 90 persen. “Target 90 persen, butuh waktu 10 bulan dengan cakupan perhari sekitar 14.000 dosis. Mohon dukungannya,”kata Riastuti.

Sejauh ini, Pemda DIY telah menggelontorkan Rp4,2 miliar untuk vaksinasi. Angka ini akan mendapat tambahan dari dana keistimewaan yang jumlahnya masih dalam pembahasan.

Akhir-akhir ini, kasus positif dan juga pasien Covid-19 meninggal di DIY masih tinggi. Sebesar 54 persen pasien meninggal lantaran memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Pasien yang meninggal juga sebagian besar laki-laki dengan angka 57%. Riastuti mengimbau masyarakat agar deteksi gejala Covid-19 lebih dini agar tingkat kematian bisa turun.

Selain deteksi dini, tentunya vaksin juga sangat disarankan. “Ayo semuanya ikut vaksinasi, saat terkena Covid-19 gejala lebih ringan dibandingkan dengan yang tidak divaksinasui,” katanya.