Nelayan Gunungkidul Dilatih Sertifikasi SKN, Keselamatan Jadi Fokus Utama
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Ilustrasi/Antara-Aloysius Jarot Nugroho
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga bakal menggabung (regrouping) 41 sekolah dasar (SD) negeri di Gunungkidul. Kebijakan ini dilakukan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pelayanan dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Sekretaris Disdikpora Gunungkidul, Sudya Marsita mengatakan dalam enerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang beberapa waktu lalu, banyak sekolah yang kekurangan murid. Hal ini terjadi karena jumlah kursi lebih banyak dibandingkan dengan calon siswa baru.
BACA JUGA: Remaja SMP di Kalasan Tewas di Rumahnya, Diduga Dibunuh saat Ibunya Pergi
Oleh karenanya, sejak 2014 lalu dilaksanakan regrouping sekolah. Hasil dari pendataan yang telah dilakukan, ada 58 SD Negeri yang bakal digabung.
Meski demikian, Sudya menuturkan, pelaksanaan tidak semudah yang direncanakan. Pasalnya, hingga sekarang regrouping baru terlaksana di 17 sekolah, sedangkan 41 sekolah lainnya masih dalam perencanaan.
“Untuk tahun ini ada dua sekolah yang bakal dilebur menjadi satu. Yakni, SD Negeri Candirejo 2 dengan SD Negeri Sumber,” kata Sudya kepada wartawan, Kamis (29/7/2021).
Menurut dia, proses penggabungan sekolah dilakukan satuan layanan pendidikan dapat lebih efektif dan efisien. Salah satunya memaksimalkan sekolah-sekolah dan mengurangi potensi adanya satuan pendidikan yang kekurangan murid.
Meski demikian, sabung Sudya, kebijakan harus dikaji dengan matang sehingga regrouping tidak menimbulkan masalah baru. “Makanya masih dalam proses dan tidak serta merta langsung digabung. Sebab, saat sosialisasi ada yang masih menolak tapi ada juga yang belum siap,” ujarnya.
BACA JUGA: Pelajar SD hingga SMA di Kulonprogo Diberi Bantuan Tunai
Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengaku tidak mempermasalahkan penggabungan sekolah yang dilaksanakan oleh disdikpora. Meski demikian, pelaksanaan harus dikaji dengan matang sehingga penggabungan tidak merugikan masyarakat sekitar. “Kalau ini demi pelayanan yang lebih baik maka kami dukung. Apalagi sekarang banyak sekolah-sekolah yang kekurangan murid,” katanya.
Heri mengatakan masyarakat sekitar juga harus dilibatkan. Selain itu, aspek jarak maupun kondisi geografis dan faktor sosial ekonomi juga jadi pertimbangan agar penggabungan tidak menimbulkan masalah, khususnya bagi para siswa maupun wali murid.
“Sudah banyak contohnya sekolah-sekolah yang digabung. Tapi, tetap pelaksanaan harus dikaji dengan matang sehingga tidak menimbulkan polemik di masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Pilur 2027 Gunungkidul akan digelar serentak di 55 kalurahan. Pemkab mulai mengkaji kebutuhan anggaran untuk pelaksanaan pemilihan.
Final FIFA ASEAN Cup 2026 mempertemukan Indonesia vs Thailand. Simak prediksi line up, jadwal dan link live streaming pukul 20.00 WIB.
Prabowo memimpin upacara HUT ke-81 TNI di Mabes TNI. Sejumlah satuan baru akan diresmikan dan komandan satuan dikukuhkan.
Mensos Saifullah Yusuf menargetkan 50 persen penduduk Indonesia masuk sistem Perlinsos Digital hingga Desember 2026.
Registrasi SIM card wajib biometrik sejak Juli 2026. Pelanggan mengeluhkan harga naik dan verifikasi wajah yang kerap gagal.