Pengobatan Tradisional Bisa Bersinergi dengan Obat Konvensional

Kegiatan talkshow online Rembag Kaistimewan Paniradya Kaistimewan "Jamu: Mempertahankan Eksistensi di Masa Pandemi" yang disiarkan di Youtube Paniradya Kaistimewan, Kamis (29/7/2021). - Ist/tangkapan layar
30 Juli 2021 06:57 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pengobatan tradisional merupakan bagian dari kesehatan, sehingga Pemerintah Daerah di DIY turut mendukung pengembangan pengobatan tradisional berintegrasi dengan pengobatan konvensional.

Hal itu terungkap dalam kegiatan talkshow online Rembag Kaistimewan Paniradya Kaistimewan dengan tema ”Jamu: Mempertahankan Eksistensi di Masa Pandemi" yang disiarkan di Youtube Paniradya Kaistimewan, Kamis (29/7/2021).

Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Kepala Puskesmas Banguntapan II Bantul, dr. Wahyu Pamungkasih mengatakan ada peraturan yang menyebutkan pengembangan pengobatan tradisional terintegrasi dengan pengobatan konvensional (obat resep dokter. Ia menegaskan obat tradisional adalah bagian dari kesehatan.

Baca juga: Kenali 5 Tanda Ini pada Kulit, Bisa Jadi Gejala Serangan Jantung

"Pada 2018 lebih dari 40% orang Indonesia selain mendapatkan pengobatan konvensional juga melakukan pengobatan tradisional. Jadi habis ke dokter, di rumah juga minum jahe dan kencur, itu tradisional. Pengobatan mandiri itu sudah sejak dulu. Dan puncaknya di awal pandemi orang takut ke faskes, maka kembali ke obat tradisional," katanya.

Puskesmasnya memberikan dukungan terhadap pengobatan tradisional melalui dua jenis program. Pertama, di dalam gedung berupa pelatihan pijat dan pengobatan dengan ramuan obat herbal terstandar. Kedua, di luar gedung, yakni prinsipnya pemberdayaan masyarakat dan edukasi kepada masyarakat.

Narasumber kedua, Kepala Puskesmas Sedayu I Kota Bantul, dr. Sistia Utami menjelaskan sesuai amanat, puskesmas yang dikelolanya mendampingi masyarakat mengembangkan potensi yang sudah ada.

Baca juga: Begini Strategi Pemda DIY Genjot Kesembuhan Pasien Covid-19

"Di pedukuhan sudah banyak penjual jamu tradisional yang turun temurun, ada yang keliling dengan sepeda atau motor, sampai dijual online. Nah, apa yang bisa dilakukan puskesmas untuk penjual jamu kami memberikan pendampingan," jelasnya.

Pendampingan itu berupa pelatihan agar penjual jamu menjaga higienitas saat membuat jamu, menjaga kebersihan pengemasan agar tidak terjadi paparan kotoran sehingga jamu tidak memberi dampak buruk bagi konsumen. Selanjutnya para produsen jamu itu diminta menularkan ilmu tersebut kepada warga lain wilayah.

Bentuk lain dari perhatian terhadap pengobatan tradisional adalah mengajak masyarakat memiliki tanaman obat keluarga (Toga) untuk pertolongan pertama. Ia mencontohkan tanaman pertama adalah jeruk nipis sebagai pertolongan pertama saat batuk. "Informasi ini disosalisasikan masif sehingga mengurangi kunjungan ke puskesmas," katanya.

Adapun narasumber ketiga yakni Ketua Kelompok Jamu JHM (Jati Husada Mulyo), Wagiyanti mengungkapkan produksi jamu di kelompoknya dipantau sejak saat produksi, seperti bagaimana higienitas bahan baku dan peralatannya.

"Bahan harus yang segar. Kami juga diajari membuat jamu yang baik, alat-alat pakai yang stainless. Orang yang melakukan produksi harus dalam keadaan yang fit, jangan saat sakit produksi agar tidak terkontaminasi produknya. Sebelum ada pendampingan belum banyak tahu, sekarang jadi lebih mengerti untuk higienitas dan kualitas untuk menjaga kualitas produk kita," katanya.