Advertisement

Virus Nipah Belum Masuk DIY, Dinkes Imbau Warga Jaga PHBS

Lugas Subarkah
Selasa, 03 Februari 2026 - 20:57 WIB
Abdul Hamied Razak
Virus Nipah Belum Masuk DIY, Dinkes Imbau Warga Jaga PHBS Mikrograf elektron berwarna palsu yang menunjukkan partikel virus Nipah (ungu) di dekat sel Vero yang terinfeksi (coklat). Ist - wikipedia.org

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan hingga awal Februari 2026 belum ditemukan kasus infeksi virus Nipah pada manusia, baik di wilayah DIY maupun secara nasional.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Advertisement

“Sampai saat ini belum ada laporan infeksi virus Nipah di Indonesia, terlebih lagi di DIY,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Virus Nipah merupakan penyakit menular yang berasal dari hewan dan memiliki tingkat kematian cukup tinggi. Kelelawar buah dari famili Pteropodidae diketahui sebagai reservoir atau inang alami virus tersebut.

Beberapa negara sempat melaporkan kasus Nipah, salah satunya India yang pada Januari 2025 mencatat dua kasus terkonfirmasi dan tiga kasus suspek di wilayah West Bengal.

Sementara di Indonesia, sepanjang 2025 hingga awal 2026 tercatat sembilan kasus suspek yang seluruhnya dinyatakan negatif. Meski belum ada kasus pada manusia, sejumlah penelitian menemukan keberadaan virus Nipah pada populasi kelelawar buah di beberapa wilayah, termasuk Indonesia.

“Risiko penularan bisa terjadi dari buah yang sebelumnya digigit kelelawar yang membawa virus Nipah. Karena itu, masyarakat disarankan tidak mengonsumsi buah yang terdapat bekas gigitan hewan,” jelas Anung.

Ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kebersihan makanan dan daya tahan tubuh sebagai langkah pencegahan.

“Tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dengan menerapkan PHBS,” katanya.

Selain kelelawar buah, virus Nipah juga dapat menginfeksi sejumlah hewan lain seperti babi, kuda, kambing, domba, kucing, dan anjing. Penularan pada hewan ternak, khususnya babi, diketahui sangat cepat, terutama selama masa inkubasi yang berlangsung antara 4 hingga 14 hari.

Untuk diagnosis, infeksi virus Nipah umumnya diperiksa melalui metode Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang dilakukan saat fase akut maupun masa pemulihan.

Hingga kini, belum tersedia pengobatan khusus untuk virus Nipah. Penanganan yang diberikan bersifat suportif dan simptomatik guna meredakan gangguan pernapasan serta komplikasi pada sistem saraf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Jaksa Minta Pendalaman Berkas Roy Suryo Cs soal Ijazah Jokowi

Jaksa Minta Pendalaman Berkas Roy Suryo Cs soal Ijazah Jokowi

News
| Selasa, 03 Februari 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement