Hotel Mutiara Malioboro Tak Dijadikan RS karena Berada di Kawasan Padat Penduduk

Hotel Mutiara di Jl. Malioboro Kota Jogja. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
02 Agustus 2021 20:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Hotel Mutiara I dan II di kawasan Malioboro tak memungkinkan menjadi rumah sakit karena berada di kawasan padat penduduk.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan Hotel Mutiara tidak memungkinkan jadi rumah sakit karena berada di kawasan Malioboro yang terlalu padat penduduk.

Selain itu jumlah tenaga kesehatannya juga terbatas, sehingga yang memungkinkan adalah tempat isolasi terpusat.

“Hotel Mutiara didedikasikan untuk [pasien] Covid-19, isolasi terpusat. Di tengah kota rumah sakit tidak memungkinkan,” kata Baskara Aji, Senin (2/8/2021).

Baca juga: Ini Perkembangan Kapasitas Bed RS untuk Pasien Covid-19 di Kota Jogja

Ia menjelaskan lokasi tersebut akan dijadikan selter bagi pasien Covid-19 yang bergejala ringan, bukan dijadikan rumah sakit darurat seperti diberitakan sebelumnya.

Total ada sekitar 203 bed atau tempat tidur di Hotel Mutiara I dan II. Selter tersebut juga akan dilengkapi dengan petugas medis seperti dokter, ahli gizi, perawat untuk memantau pasien. Upaya yang dilakukan tersebut untuk menampung pasien-pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah, sementara rumahnya tidak memenuhi syarat untuk isolasi.

Menurut Aji, saat ini masih ada sekitar 28.000an pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri. Nantinya pasien yang menjalani isoman akan diminta untuk pindah ke selter untuk mengurangi resiko penularan kepada anggota keluarga lainnya.

Satuan Tugas Khusus (Sagasus) isoman mulai bertugas dengan menghubungi puskesmas untuk mendapatkan data pasien Isoman. Pasien yang isoman akan dihubungi oleh tim, “Tim mendampingi isoman rujuk isoter [isolasi terpusat] bagi yang memerlukan rumah sakit dan rumahnya tidak memenuhi syarat diajak ke isoter,” ujar Aji.

Baca juga: Pemda DIY Klaim Kasus Aktif dan Kematian akibat Covid-19 Menurun

Lebih lanjut Baskara Aji mengatakan tim pemantauan isoman tersebut akan berbarengan dengan pengantaran obat bagi pasien Isoman yang dilakukan oleh TNI, karena petugas pemantauan isoman juga tim medis dibawah kendali Korem 072 Pamungkas.

Total anggota medisnya adalah relawan yang direkrut oleh TNI sehingga diharapkan dapat mendampingi pasien yang sedang menjalani isoman. Namun ketugasannya juga tetap berkoordinasi dengan puskesmas, “Datanya dari wilayah puskesmas yang akan dihubingi satgas penebalan nakes,” ujar Baskara Aji

Baskara Aji menambahkan, sejauh ini rumah sakit darurat yang sudah siap adalah University Club UGM, arama mahasiswa UGM Karanggayam. Keduanya dibawah pengampu Rumah Sakit Akademik UGM. Selain itu Gedung Diklat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Ngeksigondo Jogja yang dijadikan rumah sakit darurat dibawah pengampu Rumah Sakit Bhayangkara.