Tak Ada Klaster Iduladha di Perumahan Gama Asri Turi

Ilustrasi. - Freepik
04 Agustus 2021 05:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Satgas Perumahan Gama Asri, Padukuhan Gading Wetan, Donokerto, Kapanewon Turi, membantah munculnya klaster Iduladha di perumahan tersebut.

Ketua Satgas RT 2 Perumahan Gama Asri Donokerto Turi Andi Rhuly Ekayani mengatakan munculnya isu puluhan warga yang terkonfirmasi positif di perumahan tersebut dari klaster Iduladha tidak benar. "Saya membantah kalau puluhan warga di sini terkonfirmasi positif Covid-19 dari klaster Iduladha," katanya kepada Harian Jogja, Selasa (3/8/2021).

Dijelaskan Rhuly, tidak semua warga yang terkonfirmasi positif di perumahan itu terjadi setelah Iduladha. Sebelum Iduladha juga sudah ada warga yang terkonfirmasi positif. Baik lewat pemeriksaan mandiri maupun hasil tracing dari kantor masing-masing.

"Tiga hari setelah Iduladha itu memang ada yang positif. Satgas langsung melakukan tracing, panitia dan Satgas. Ada 41 warga yang dites PCR," terang Rhuly.

Dari 41 warga tersebut, yang positif hanya tiga warga. Itupun rumahnya berada satu gang dengan tiga warga yang sebelum Iduladha sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Total ada 10 orang termasuk tracing dari keluarganya. "Jadi mereka yang terkonfirmasi positif hanya ada di satu gang itu. Gang RT kanan kirinya, semuanya negatif," katanya.

Dia mengakui, ada pasien Covid-19 yang sempat mendatangi lokasi masak tetapi tidak lama. Setelah itu kembali ke rumah. Rhuly memastikan, sebelum pelaksanaan Iduladha warga yang mengikuti proses pemotongan hewan kurban sesuai protokol kesehatan.

Baca juga: Keterisian Tempat Tidur Pasien Covid-19 di Jogja Mulai Turun

"Proses pemotongan hewan kurban pun sudah mengantongi izin. Semua panitia diozon dan didisinfektan. Tidak boleh selain panitia masuk. Jadi kalau memang disebut klaster Iduladha itu tidak benar," katanya.

Rhuly juga meluruskan kabar warga yang kritis terkait Iduladha, berbeda kasus penularan setelah Iduladha. Warga yang kritis tersebut sekitar sembilan hari sebelum Iduladha sudah positif Covid-19. "Kasusnya sudah lama, ada dua yang kritis, satu meninggal satunya lagi masih di Sardjito. Jadi sebelum Iduladha saya yang mendampingi, saya yang menangani. Karena saturasinya memang turun," katanya.

Sebelumnya, Lurah Donokerto R Waluyo Jati mengatakan lonjakan kasus positif Covid-19 di kalurahannya kembali terjadi setelah perayaan Iduladha. Saat ini tercatat lebih dari 166 warga Donokerto melakukan isolasi mandiri akibat terpapar Covid-19.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 46 warga terpapar Covid-19 setelah perayaan Iduladha. Kasus terbanyak, kata Waluyo, terdapat di padukuhan Gading Wetan. Jumlah warga yang terpapar di padukuhan ini sekitar 35 warga. Penyebabnya, kata Waluyo, ada warga yang positif Covid-19 berkeliaran sehingga menulari warga lainnya.

"Ada warga yang harusnya isolasi mandiri karena termasuk yang ditracing tidak jujur melakukan isolasi mandiri. Bahkan ia berbaur mengikuti solat jemaah saat Iduladha dan ikut membantu penyembelihan hewan kurban," katanya saat dikonfirmasi Harian Jogja, Jumat (30/7/2021).

Lonjakan kasus baru tersebut, kata Waluyo terjadi sejak 24-25 Juli kemarin. Kondisi tersebut, katanya berdampak pada penambahan jumlah kasus positif Covid-19 di kalurahannya. Padahal sebelum Iduladha, Satgas dan Kalurahan Donokerto sudah meminta agar warga tidak menggelar solat Iduladha berjemaah sesuai imbauan Bupati Sleman.

"Selama PPKM Darurat diterapkan, sebenarnya kasusnya mulai menurun. Landai. Setelah Iduladha ini mulai naik lagi. Sebelum kasus baru ini ada 120 warga yang isoman, saat ini sudah 166 warga," katanya.

Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Donokerto, Satgas pun mengambil kebijakan untuk menerapkan PPKM Mikro di Kampung Gading Wetan. Alasannya, kata Waluyo, kampung tersebut sudah masuk zona merah dan agar virus Corona tidak menyebar ke warga lainnya. Mereka saat ini menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.