Mahasiswa Hasilkan Listrik dari Limbah Penyamakan Kulit

Mahasiswa sedang melakukan penelitian mengenai limbah cair dari industri penyamakan kulit yang berpotensi menjadi sumber listrik alternatif. Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Islam Indonesia. - Ist
16 Agustus 2021 20:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Lima orang mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII) mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mengangkat judul “Pemanfaatan Microbial Fuel Cell untuk Menghasilkan Energi Listrik dari Pengolahan Limbah Industri Penyamakan Kulit”.

Mereka adalah Indah Tri Rizky dari Prodi Kimia/ FMIPA, Bagas Hadi Pratomo dari Teknik Lingkungan / FTSP, Wisik Adelina Teknik Kimia/FTI), Muhammad Azmir Teknik Elektro/FTI, dan Novita Sukma Ayatillah dari Prodi Kimia/FMIPA.

Kelompok yang dibimbing oleh dosen Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D ini beralasan industri penyamakan kulit dikenal sebagai industri yang tidak ramah lingkungan karena menghasilkan banyak limbah dalam prosesnya. Limbah cair yang dihasilkan mengandung logam berat krom (Cr), chemical oxygen demand (COD) yang tinggi, dan beberapa senyawa nutrien lain yang dapat terurai mikroorganisme).

Dengan memanfaatkan Microbial Fuel Cell (MFC) atau sel elektrokimia berbasis mikroba menjadi salah satu contoh teknologi alternatif yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai energi substituen karena fuel cell ini mengubah energi kimia menjadi energi listrik melalui reaksi katalitik menggunakan mikroorganisme.

“Riset dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Islam Indonesia, berlangsung pada tanggal 2 juli-14 Agustus 2021,” kata Indah Tri Rizky.

Sementara itu Bagas Hadi Pratomo menjelaskan program ini relevan dengan kebutuhan masyarakat karena program ini merupakan salah upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang terjadi akibat limbah penyamakan kulit yang mengandung bahan kimia yaitu krom.

“Selain itu, output dari pengolahan menggunakan Microbial Fuel Cell ini yaitu Listrik yang jika dikembangkan bisa menjadi salah satu energi alternatif,” tutur dia.

Proses kegiatan diawali dengan brainstorming TIM PKM-RE MFC UII dengan dosen pembimbing yang dilanjutkan dengan pencarian jurnal referensi, kemudian dilakukan penelitian pada Laboratorium Terpadu Universitas Islam Indonesia.

Tim kemudian mempersiapkan alat dan bahan. Persiapan alat bahan penyusun MFC meliputi toples, pipa, aluminium, multimeter, penjepit buaya, dan pompa aquarium. Sedangkan bahannya terdiri dari limbah penyamakan kulit, sumbu kompor, aquades, KCL. Perangkai alat dan bahan riset MFC dual chamber.

Wisik Adelina menjelaskan pada rangkaian alat terdapat tabung anoda dan katode yang terbuat dari toples. Tabung anoda dan tabung katoda yang terhubung oleh jembatan garam yang dibuat menggunakan pipa pvc (Ø 2 cm, panjang 10 cm) yang di dalamnya diisi hingga padat oleh sumbu kompor yang telah direndam dengan KCL. Pada ruang anoda tertutup rapat karena di dalamnya terjadi reaksi anaerob oleh limbah cair penyamakan kulit dan mikroba.

“Sedangkan pada tabung katoda tidak tertutup, karena di dalamnya terjadi reaksi aerob oleh O2 dan elektron. Selain itu pada tabung katoda juga terdapat selang untuk disambungkan ke pompa sebagai supply oksigen,” tutur dia.

Kemudian pada kedua tutup di tancapkan elektroda sebagai konduktor yang digunakan untuk bersentuhan antara aquades dan limbah dengan rangkaian alat listrik. Di kedua ujung elektroda di atas tabung reaktor MFC dual chamber dihubungkan oleh rangkaian listrik sederhana. Pada rangkaian listrik terdapat multimeter sebagai alat untuk mendeteksi adanya arus dan tegangan listrik yang mengalir.

Pengamatan 8 Hari

Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan selama delapan hari untuk mengamati arus dan tegangan listrik yang dihasilkan oleh MFC dual chamber. Pengolahan Data Arus dan tegangan diukur dengan menggunakan multimeter digital yang dihubungkan langsung pada rangkaian MFC. Hasil data tersebut kemudian diolah untuk mendapatkan nilai potensi listrik yang dihasilkan.

Muhammad Azmir menyempaikan penelitian ini mendapatkan respons baik dari doesn FMIPA UII. Rangkaian alat dari MFC Dual Chamber ini dinilai sederhana dan ekonomis, sehingga dapat menjadi alternatif yang dapat dibuat dengan mudah oleh masyarakat.

Novita Sukma Ayatillah mengatakan kelompoknya berkesimpulan variasi yang paling efektif dalam menghasilkan potensi listrik paling tinggi adalah variasi pertama, yaitu limbah penyamakan kulit yang dicampur dengan, glukosa, dan lumpur sawah dengan besar potensi listrik yang dihasilkan pada hari ke 8 yaitu sebesar 167,13 µWatt.

“Besarnya nilai daya listrik untuk potensi listrik yang dihasilkan dipengaruhi oleh nilai arus dan tegangan yang dihasilkan. Peran substrat glukosa dan lumpur sawah sebagai supply mikroorganisme untuk biokatalis juga memiliki peran penting yang mempengaruhi nilai arus dan tegangan pada MFC,” tutur dia. (ADV)