Bendera 8 Meter Dikibarkan di Menara Masjid

Takmir Masjid Al Azhar membenahi tali pengikat bendera saat mengibarkan bendera Merah Putih berukuran 4 x 8 meter di menara pengeras suara masjid tersebut di Suryowijayan, Jogja, Selasa (17/08/2021). - Harian Jogja/Desi Suryanto.
18 Agustus 2021 07:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-76 dirayakan dengan cara yang berbeda karena masih dalam suasana pandemi Covid-19. Tak banyak warga yang menggelar kegiatan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dua remaja bernama Andri Prasetya, 23, dan Erryno An’amta, 20, sudah bersiap dengan berbagai peralatan di tubuhnya. Mulai dari helm pengaman, tali karmantel berikut carabiner yang melilit di tubuhnya. Keduanya bersiap menaiki sebuah Masjid yang bangunannya cukup sempit tak jauh dari sebelah timur Sungai Winongo. Tempat ini berada di wilayah adminsitrasi Kampung Suryowijayan MJ I/548, Mantrijeron, Kota Jogja.

BACA JUGA : Peringati Proklamasi, Sultan HB X: Mangan Ora Mangan Kumpul Kini Sudah Tak Tepat

Dua remaja ini melewati sebuah tangga bambu sekitar empat meter sebagai jalan utama untuk menuju ke bagian atap Masjid tersebut. Sesampainya di bangunan atas berupa cor atap, keduanya harus merayap pada celah dinding dengan ukuran lebar tak lebih dari 50 sentimeter. Jalur sempit itu harus dilalui karena tidak ada jalan lain untuk menuju titik yang dituju, yaitu menara pengeras suara Masjid tersebut.  

Pagi itu tepat pukul 10.00 WIB bersamaan dengan detik-detik proklamasi, suara sirine Gaok yang berada di kawasan Pasar Beringharjo terdengar hingga lokasi tersebut. Kedua remaja yang merupakan anggota Remaja Masjid Melati Muda (Melda) Masjid Al-Azhar ini sedang menunaikan hajatnya untuk melakukan penghormatan terhadap bendera Merah Putih berukuran lebar 4 meter dan panjang 8 meter di tower Masjid. Jika dihitung dari dataran paling rendah area tersebut, posisi menara tersebut dengan tinggi sekitar 15 meter.

Menggunakan alat pengaman yang melekat di tubuhnya kedua remaja ini menaiki secara perlahan tower tersebut. Lalu membentangkan bendera berukuran besar dan tampak berkibar tersapu angin kencang. Andri dan Erryno memiliki hobi panjat tebing, sehingga untuk menjalankan misi naik dan turun di menara tersebut bisa dilakukan dengan lancar.

BACA JUGA : Pesan Kemerdekaan dari Jogja: Ubah Negatif Chaos Menjadi Positif Chaos

Meski dilakukan hanya dua orang, tetapi berjalan khidmat, keduanya tampak meresapi keberadaan Merah Putih, dengan tetap terdiam saat sirine detik-detik proklamasi masih terdengar di telinga.

“Ini bagian dari menumbuhkan rasa nasionalisme,” ujar Erryno saat berbincang usai kegiatan tersebut.

“Latihannya hanya dua hari, pakai pengaman sampai di atas, proses pemasangan sekitar 10 menit. Kebetulan biasanya suka dengan kegiatan panjat tebing,” ucapnya lagi.

"Harus mengerti jenis talinya juga, karena fungsinya ada yang berbeda dan penggunaan harus tepat," sahut Andre.

Sama seperti remaja lainnya, Andri dan Erryno biasanya aktif dengan kegiatan Agustusan yang digelar di kampung saat sebelum pandemi. Tetapi saat ini tidak ada kegiatan sama sekali demi mencegah penularan Covid-19. Peringatan detik-detik proklamasi itu pun kedua remaja ini hanya didampingi pengurus Masjid setempat, Zaini, sehingga tidak menimbulkan kerumunan.

“Untuk kegiatan Agustusan sama sekali tidak ada, hanya memasang bendera saja. Ini dilakukan secara terbatas, hanya kami berdua,” ujar Andre.

Dengan dikibarkan bendera merah putih berukuran besar ini harapannya, bisa dilihat banyak orang dan mengingatkan masyarakat akan cinta terhadap tanah air dan bangsa. Masjid tersebut dipilih karena termasuk bangunan paling tinggi di kawasan tersebut. sehingga posisi bendera bisa dilihat banyak warga, maupun pengendara yang melintas di Jalan Sugeng Jeroni.

“Apalagi sekarang pandemi jadi tidak banyak aktivitas sehingga tidak banyak peringatan kemerdekaan, beda dengan sebelum pandemi,” ucap Zaini Mansur.

BACA JUGA : Peringatan HUT Kemerdekaan Harus Menjadi Ajang Introspeksi

Peringatan kemerdekaan kali ini dilakukan dengan penuh keprihatinan, pemerintah secara tegas melarang adanya berbagai lomba dan tirakatan karena dikhawatirkan menimbulkan kerumunan. Setiap perkampungan seluruh DIY hanya bisa merayakannya dengan memasang umbul-umbul dan bendera merah putih untuk sekedar menyemarakkan lingkungan. Hingga membuat mural ucapatan Kemerdekaan RI ke-76 di dinding tempat umum seperti dilakukan warga di Tirtonirmolo, Kasihan Bantul.

“Di kampung kami juga hanya memasang umbul-umbul dan bendera Merah Putih, tidak ada kegiatan lain, mengikuti anjuran pemerintah,” kata Setyanto, salah satu pengurus RT di Banguntapan, Bantul.

Pemkab Bantul mengeluarkan surat edaran peniadaan malam tirakatan dan lomba-lomba HUT Kemerdekaan RI ke-76. Kebijakan ini diambil untuk mencegah terjadinya penyebaran Covid-19. Kebijakan serupa juga diambil kabupaten dan kota lainnya di DIY.