Perlu Meruwat Indonesia di Masa Pandemi

Alat pelindung diri (APD). - Reuters
20 Agustus 2021 06:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Saat ini Indonesia merupakan negara yang perlu diruwat. Tidak hanya lantaran sedang pandemi Covid-19, ruwatan untuk negara juga lantaran terdapat beberapa masalah di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Ki Joko Santoso dalam diskusi daring bertema Ruwatan Bangsa di Era Pandemi. Diskusi ini hadir dari kerja sama Paniradya Kaistimewan, Harian Jogja, dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional.

Selain pandemi Covid-19, Indonesia juga memiliki masalah seperti banyak benturan sosial.

“Itu yang membuat Indonesia menjadi sakit karena itu. Tapi karena suasana sedang seperti ini, apalagi ada PPKM, maka sebaiknya dilakukan dengan ruwatan kontemporer yang tidak terlalu memakan banyak waktu, temasuk juga biaya,” kata Ki Joko, Kamis (19/8).

Masalah yang ada di Indonesia saat ini tidak berdiri sendiri, namun ada sebabnya. Manusia juga tidak luput sebagai pelaku yang membuat Indonesia dalam keadaan sakit. Sebagai contoh, penebangan pohon membuat bencana seperti banjir.

Selain ada masalah yang hadir karena kesalahan dalam menjalani hidup, ada pula masalah yang hadir sejak lahir. Ruwatan menjadi salah satu cara untuk bisa membebaskan masalah tersebut.

Ki Joko menekankan apabila ruwatan tidak ada hubungannya dengan teologi. Banyak orang yang salah menganggap ruwatan sebagai musyrik atau sejenisnya. “Padahal sesungguhnya ruwatan ini bukan persoalan teologi, tapi ini adalah sosial budaya. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama apapun,” katanya.

Tradisi ruwatan sudah ada sejak zaman Walisongo. Ruwatan berangkat dari tradisi lisan yang kemudian berubah menjadi prosesi. Menurut Dalang Ruwatan asal Gunungkidul, Ki Susena Aji, saat ini telah banyak terjadi perubahan dengan gelaran wayang sebagai bagian dari ruwatan.

Dalam hal teknis misalnya, apabila dahulu tokoh wayang dalam gelaran ruwatan bisa banyak, saat ini bisa menampilkan tokoh utamanya saja. Durasi, sesi penceritaan, sampai jumlah gamelan juga bisa disesuaikan atau diperingkas. Orang yang memiliki hajat ruwatan juga kini semakin beragam.

 

Lewat Virtual

Apabila sebelumnya diidentikkan dengan orang berekonomi menengah ke bawah dan konvensional, kini orang yang bergelar master atau doktor juga menggelar ruwatan. “Tidak terbatas hanya orang Jawa, ada perubahan baik teknis, sosial, maupun pendidikan,” katanya. Lantaran saat ini masih dalam keadaan pandemi Covid-19, maka ruwatan bisa disesuaikan dengan virtual.

Menurut seniman teater Ki Wahyana Giri Mawa Cipta, penyesuaian juga bisa berlaku pada hiburan dalam prosesi ruwatan. Apabila dahulu wayang, maka bisa diganti dengan yang lain, termasuk pertunjukan musik.

Tidak ada satu pakem dalam satu kesenian. Bahkan Ki Giri beranggapan apabila kesenian saat ini merupakan bentuk pemberontakan dari kesenian sebelumnya. “Artinya kalau anak-anak muda membuat bentuk ruwatan versi mereka, tidak dipungkiri lagi sah-sah saja,” kata Ki Giri. “Ternyata bisa diringkas atau diperpendek sangat mungkin. Dan sangat mungkin anak muda membuat ruwatan dengan musik rock misalnya.”

Inti dari ruwatan yaitu pada teks-teks mantranya. Pelengkap seperti wayang dan lainnya bisa diganti dengan media lain. Kesenian bisa terus bergerak asalkan ruhnya tidak hilang. Poin utama ruwatan agar ada edukasi kepada masyarakat untuk menjaga negara, menjaga anak-anaknya, dan sebagainya. (Sirojul Khafid)

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia