Selama Pandemi, Jaga Mental Anak lewat Family Time

Tangkapan layar talkshow daring bertajuk "Menjaga Mental Anak Selama Pandemi & Belajar Daring" yang diselenggarakan Harian Jogja, Jumat (20/8/2021). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
20 Agustus 2021 19:37 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemberlakuan belajar dari rumah selama pandemi membuat kalangan anak-anak jenuh. Lebih jauh, hal ini akan mengganggu proses tumbuh kembang dan mental mereka.

Pandemi memberikan dampak yang serius bagi kalangan anak-anak. Mereka harus banyak beraktivitas di rumah, termasuk belajar dari rumah yang belum bisa diprediksi kapan berakhirnya. Kondisi ini membuat anak banyak yang tidak semangat belajar, jenuh, bahkan sering tantrum.

Plh. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY Hera Aprilia menerangkan untuk menjaga mental anak selama pandemi dan masa belajar dari rumah ini maka memerlukan dukungan khusus dari keluarga. Perhatian yang lebih dari kedua orang tua terhadap anak sangat dibutuhkan di masa pandemi ini.

"Orang tua dan anak itu perlu family time. Apalagi di era sekarang saat orang tua banyak yang bekerja. Lalu kapan family time kalau semuanya sibuk? Nah, idealnya punya waktu untuk keluarga ini dilakukan di malam hari," kata Hera saat gelar wicara daring bertajuk Menjaga Mental Anak Selama Pandemi & Belajar Daring yang diselenggarakan Harian Jogja dan Satgas Penanganan Covid-19, Jumat (20/8/2021).

Melalui momen family time antara anak dan orang tuanya perlu menjalin komunikasi dan interaksi yang sehat, sehingga anak bisa terbuka kepada orang tuanya jika ada permasalahan. Dengan begitu, anak bisa berkenan curhat ke orang tuanya dan bukan ke orang lain. Kedekatan anak dengan orang tua ini akan membentuk mental anak menjadi lebih sehat.

Senada, Ketua TP PKK Kota Magelang, Niken Ichtiaty Nur Aziz mengatakan pandemi yang membuat sejumlah pegawai bisa bekerja dari rumah atau work from home (WFH) justru menjadi waktu yang tepat untuk menyusun waktu untuk keluarga.

"WFH justru jadi waktu yang tepat untuk menyusun jadwal family time. Orang tua bisa memastikan waktu untuk bekerja dulu, lalu kapan anak belajar, lalu setelah itu bisa punya waktu bersama keluarga," ujarnya.

Menurut Niken, salah satu upaya menjaga mental anak selama belajar daring ini juga berkaitan dengan para orang tua yang perlu menahan diri menjadikan anak sebagai obsesi mereka dalam meraih prestasi akademik. Lantaran situasinya tengah darurat, orang tua perlu memahami kondisi anak yang sudah jenuh hampir dua tahun hanya belajar di rumah.

Ketua TP PKK Kulonprogo Sri Wahyu Widhati menambahkan orang tua juga perlu konsekuen ketika meminta anak supaya rajin belajar dengan memberikan pendampingan. "Sekarang malah yang ada anak dioyak-oyak untuk belajar, tapi orang tuanya menonton sinetron. Harusnya konsekuen, mereka perlu mendampingi belajar, bukan nonton TV," kata dia.