Begini Cara Pemkot Jogja Mendampingi Puluhan Anak Yatim Akibat Covid-19

Foto Ilustrasi. - Ist/Freepik
24 Agustus 2021 13:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Merespons adanya anak yang kehilangan orang tuanya yang meninggal karena Covid-19, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melakukan pendampingan. Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Jogja, Edy Muhammad, ada anak yang menjadi yatim, piatu, bahkan yatim piatu.

Menurut data per 12 Agustus 2021, di Kota Jogja terdapat 57 anak yang menjadi yatim, 23 anak yang menjadi piatu, dan tujuh anak yang menjadi yatim piatu yang orang tuanya meninggal akibat Covid-19. Beberapa di antaranya masih balita bahkan usianya di bawah dua tahun. Pendampingan dilakukan secara dua tahap melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

Salah satu bentuk pendampingan dari sisi psikologis. Ada anak yang mengalami trauma berat setelah kehilangan ayah, ibu, atau kedua orang tuanya. “Kami tidak akan menghitung berapa kali harus melakukan pendampingan. Yang pasti, pendampingan akan diberikan sampai setiap anak yang kehilangan orang tua bisa menerima kondisi tersebut,” kata Edy, Senin (23/8/2021).

Pendampingan kepada anak tergantung kebutuhan masing-masing. Opsi pertama membawa pengasuhan anak kepada saudara terdekat atau kerabat. Namun tidak menutup kemungkinan anak akan mendapat pengasuhan alternatif.

BACA JUGA: LaporCovid: Salah Besar! Bahagia karena Kasus Positif Covid-19 RI Turun, Ini Alasannya

“Jika pengasuhan alternatif dibutuhkan, maka pemerintah daerah akan melakukan penjangkauan dan mencarikan tempat pengasuhan alternatif terbaik, yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang dengan baik,” kata Edy.

Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, penanganan anak-anak yang menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu akibat Covid-19 melibatkan korporasi dan lembaga sosial. Pendampingan ini sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.

Pendampingan ini diharapkan bukan satu atau dua kali, namun bisa berkesinambungan. “Intervensi perlu dilakukan, misalnya untuk mendukung kebutuhan pendidikan dengan beasiswa atau dukungan lainnya,” kata Heroe.