Membumikan Gerakan Warga yang Besar di Dunia Maya

Diskusi daring bertema Membumikan Gerakan Kemanusiaan dari Dunia Maya, Senin (30 - 8). Diskusi ini hadir dari kerja sama antara Satgas Nasional Penanganan Covid/19 dan Harian Jogja.
30 Agustus 2021 19:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Pandemi Covid-19 yang berdampak pada seluruh lapisan masyarakat membuat banyak orang tergerak untuk saling membantu. Konsep warga jaga warga semakin marak terjadi, termasuk di wilayah DIY. Satya Swandaru Wibowo salah satunya. Dia merupakan orang yang menyediakan mobil dan tenaganya untuk membawa pasien Covid-19 dari rumah menuju rumah sakit (RS).

Kegiatan yang Satya lakukan berawal dari kondisi salah satu temannya. Kala itu, teman Satya positif dan saturasinya terus menurun. Di salah satu Whatsapp Grup (WAG) alumni, dia meminta bantuan untuk mengantar ke rumah sakit. Tidak ada yang merespons. Satya yang telat mengecek WAG langsung menghubungi temannya secara pribadi.

Satya mendapat informasi bahwa saturasi temannya berada di angka 47. Namun belum ada yang mengantar ke rumah sakit. Layanan kendaraan online juga tidak ada yang mau. Kemungkinan besar seluruh teman atau pengendara layanan trasnportasi daring takut tertular Covid-19.

“Akhirnya saya nekat untuk antar dia ke RS. Akhirnya saya jemput dari rumahnya ke RS Jogja. Saya enggak mikir apa-apa, yang penting sampai RS. Setelah itu saya pulang,” kata Satya dalam diskusi daring bertema Membumikan Gerakan Kemanusiaan dari Dunia Maya, Senin (30/8). Diskusi ini hadir dari kerja sama antara Satgas Nasional Penanganan Covid-19 dan Harian Jogja.

Sayangnya, setelah beberapa saat kemudian, Satya mendengar kabar apabila temannya telah meninggal. Dari kejadian itu, Satya memberikan pengumuman di WAG alumni yang berisi penawaran antar jemput pasien Covid-19. Namun ternyata pengumuman itu menyabar di WAG lain.

 

Sejak Januari 2021 sampai saat ini Satya terus aktif mengantar pasien Covid-19 dari rumah menuju RS atau selter. Ternyata banyak pasien yang kesulitan mendapatkan transportasi. Selain ketersediaan ambulans yang sedikit, banyak pula yang takut tertular. Salah satu dampaknya, pekerjaan sebagai pengendara di layanan transportasi online kini jarang dia lakoni.

Selain menjaga kendaraan agar tetap steril, Satya juga menjaga badannya dengan minum vitamin tertentu. Layanan ini tidak mematok harga tertentu. Semangatnya untuk membantu sesama.

Beda Satya, beda juga gerakan masyarakat Sambatan Jogja (Sonjo). Gerakan Sonjo juga memaksimalkan WAG dalam kegiatannya. Menurut penggagas Sonjo, Rimawan Pradiptyo, gerakan yang muncul sejak Maret 2020 ini sudah memiliki 20 WAG internal DIY. Sementara untuk WAG kolaborasi dengan provinsi lain ada empat.

Seluruh WAG terbagi dalam tiga aspek yaitu ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Dalam WAG ini, terjadi pertemuan antara orang yang membutuhkan bantuan dan yang akan memberikan bantuan. Semisal ada yang butuh masker, maka dia bisa memberikan pengumuman di WAG terkait. Bagi yang sedang bisa membantu bisa langsung merespons.

Dengan cara warga bantu warga, maka dampak pandemi sedikit banyak bisa teratasi. Dalam kegiatan Sonjo tidak ada aliran uang. Semua berupa barang. Hal ini salah satunya juga untuk menghindari adanya permasalahan uang dan potensi oknum yang menunggangi.

Meskipun gerakan ini murni untuk membantu dan gratis, saat akan berkolaborasi dengan pemerintah tetap saja ada hambatan. Tidak semua pemerintah daerah terbuka atau kooperatif. Ada yang responsnya tidak baik, ada pula yang menolak. Namun Sonjo tetap bergerak dengan segala sumber dayanya, termasuk dunia maya yang menjadi salah satu kekuatannya.