Produktivitas Petani Tetap Terjaga di Masa Pandemi  

Bupati Gunungkidul, Sunaryanta menyerahkan bantuan alat mesin pertanian kepada kelompok tani di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul beberapa waktu lalu. (ist - Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul)
30 Agustus 2021 07:07 WIB Media Digital Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pandemi Covid-19 tidak berpengaruh terhadap sektor pertanian di Gunungkidul. Produktivitas petani tetap terjaga, tangguh dan bisa tumbuh. Jumlah panen pun meningkat.

Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, produksi padi hingga Juli lalu hasil panen mencapai 296.031 ton gabah kering giling (GKG). Angka ini masih bisa bertambah karena masih ada panen untuk periode masa tanam ketiga pada Agustus hingga Desember mendatang.

Jumlah ini meningkat signifikan. Sebagai contoh, panen di 2019 hanya sebesar 257.419 ton GKG. Sedangkan tahun lalu angka panen mencapai 291.771 ton.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan kondisi para petani sehat sehingga berpengaruh terhadap produktivitas pertanian. Ia tidak menampik, pandemi Covid-19 memukul semua lini di masyarakat. Meski demikian, dampak dari wabah tidak memberikan pengaruh terhadap produktivitas di bidang pertanian.

“Panennya bagus-bagus. Tidak hanya padi, ada palawija, kacang, kedelai tetapi ada juga sayur-sayuran,” kata Bambang, Minggu (29/8).

Dia menjelaskan, ada beberapa penyebab yang membuat hasil panen tetap bagus, meski masih dalam keadaan pandemi. Salah satunya berkaitan dengan kesehatan.

Untuk mengantisipasi penularan virus Corona, Dinas Pertanian dan Pangan telah membuat surat edaran kepada kelompok-kelompok tani untuk menjalankan protokol kesehatan pada saat beraktivitas. “Antisipasi penting agar petani tetap sehat sehingga lahan yang dimiliki bisa digarap dengan baik,” ungkapnya.

Adapun faktor lain penunjang produktivitas, juga tidak lepas dari sejumlah program mulai dari bantuan alat mesin pertanian yang dibagikan kepada kelompok tani. Tak hanya itu, juga ada bantuan berupa pembangunan infrastruktur untuk penyediaan air bersih melalui pembuatan sumur bor, dam parit hingga sarana irigasi persawahan.

Upaya peningkatan produktivitas pertanian juga ada program optimalisasi pengelolaan lahan kering. Diharapkan dari kegiatan ini bisa menyulap lahan yang awalnya tandus menjadi produktif sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh para petani. “Kami juga memberikan bantuan benih unggul kepada petani,” katanya.

Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengatakan kesehatan masyarakat merupakan faktor penting dalam upaya menunjang pertumbuhan ekonomi. Oleh karenanya, digalakkan program vaksinasi untuk masyarakat. “Capainya sudah 40 persen dan mudah-mudahan target herd immunity [kekebalan kelompok] bisa secepatnya terbentuk,” katanya.

Meski demikian, ia berharap kepada masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan guna memutus mata rantai perseberan Covid-19.

Panen Raya Singkong

Sebagai gudang pangan di DIY, Gunungkidul juga menghasilkan ketela pohon atau singkong. Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan berdasarkan hasil pendataan yang telah dilakukan, tahun ini ada lahan seluas 44.025 hektare yang ditanami singkong.

Menurut dia, belum ada upaya pengubinan untuk menentukan besaran produktivitas singkong di tahun ini. Meski demikian, Raharjo menilai panen bisa mencapai 17 ton hingga 21 ton per hektare. “Dengan penghitungan yang ada diperkirakan panennya bisa mencapai 832.000 ton,” katanya.

Raharjo menuturkan, tanaman singkong merupakan komoditas unggulan selain padi. Untuk penanaman hampir merata di seluruh wilayah di Gunungkidul.

Meski demikian, banyak petani yang menanam dengan model tumpang sari sehingga tidak hanya menanam singkong, tetapi ada tanaman pangan lain yang ditanam  seperti jagung, kacang atau lainnya. “Masa tanammnya lebih lama. Jadi, agar tetap produktif dilakukanlah ara penanaman tumpang sari,” katanya.

Ia pun optimistis target panen singkong ini bisa terpenuhi dan hasilnya dapat dinikmati para petani. “Sama seperti produksi padi yang surplus. Untuk singkong saya yakin hasilnya juga akan bagus. Untuk panenya akan berlangsung mulai Agustus hingga September,” katanya.

Raharjo menambahkan, seusai panen raya singkong, para petani Gunungkidul mulai mengolah lahan untuk perisiapan musim tanam pertama saat penghujan. (ADV)