Atasi Kekeringan, Gunungkidul Gelontorkan Rp15,3 Miliar

Ilustrasi. - Antara/Okky Lukmansyah
01 September 2021 16:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul menggelontorkan program penyediaan air bersih sebesar Rp15,3 miliar. Akses masyarakat terhadap air bersih diharapkan semakin mudah.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul Agus Subaryanto mengatakan program penyediaan air bersih dilakukan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan kalurahan di Gunungkidul. Total tahun ini ada anggaran sebesar Rp15,3 miliar untuk pelaksanaan kegiatan.

BACA JUGA: Masyarakat Sudah Bisa Naik, Tarif KA Bandara YIA Gratis Sampai 16 September 2021

Menurut dia, alokasi ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus, APBD dan bantuan Program Nasional Penyediaan Air Minum  (Pamsimas). Total ada 31 kalurahan yang mendapatkan bantuan. Adapun alokasinya bervariasi mulai dari Rp160 juta hingga Rp3,1 miliar.

“Paling besar diterima di Kalurahan Bohol [Kapanewon Rongkop] melalui DAK bidang air minum sebesar Rp3,1 miliar,” kata Agus kepada wartawan, Rabu (1/9/2021).

Hingga saat ini, akses terhadap air bersih masyarakat di Gunungkidul baru sebesar 82,3%. Diharapkan dengan program ini, akses air bersih jadi semakin mudah.

“Jumlah ini ada yang melalui layanan PDAM, tapi ada juga yang melalui program pamsimas, spamdus maupun spamdes,” ungkapnya.

Agus berharap pelaksanaan bisa berjalan dengan lancar sehingga program dapat selesai tepat waktu. Selain itu, pada saat fasilitas terbangun harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan terus dirawat agar tetap bekerja secara optimal.

“Masyarakat juga harus berpartisipasi, salah satunya merawat fasilitas yang telah dibangun,” katanya.

BACA JUGA: Lahan Tol Jogja-Solo Dibersihkan Lebih Cepat, Ini Alasannya

Anggota DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S mengatakan potensi sumber air di Gunungkidul sangat melimpah. Hal ini terlihat dari banyaknya sungai-sungai bawah tanah. Meski demikian, keberadaannya belum dioptimalkan sehingga dampaknya masih ada warga yang kesulitan mendapatkan air bersih pada saat musim kemarau.

“Saya yakin kalau sumber bawah tanah bisa dimanfaatkan dengan baik, maka masalah kekeringan dapat diatasi,” katanya.