Tekan Angka Kematian Pasien Covid-19, Dinkes Kota Jogja Optimalkan 3 Hal Ini...

Ilustrasi. - Freepik
04 September 2021 10:27 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja menyebut, ada tiga kebijakan pokok yang bakal dijalankan secara beriringan dalam menurunkan angka kematian pasien Covid-19 di wilayahnya. Kebijakan itu nantinya diharapkan mampu menekan kasus harian maupun kematian pasien Covid-19 yang jumlahnya masih fluktuatif sampai saat ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Jogja, Lana Unwanah mengklaim bahwa, kondisi kematian pasien Covid-19 di wilayah itu menunjukkan angka yang menurun sebulan belakangan, sama seperti kasus harian baru Covid-19. Puncak kematian pasien Covid-19 terjadi pada rentang Juni-Juli lalu yakni dengan jumlah 38 pasien satu hari. Belakangan, kasus kematian pasien Covid-19 disebut dia memang masih ada namun, angkanya menunjukkan penurunan.

"Kematian kalau kita lihat dari awal Juni meningkat dan puncaknya itu di angka 38 dan semakin ke sini semakin menurun. Lalu Agustus akhir sampai dengan sekarang juga demikian. Terakhir pada tanggal 2 September itu ada 8 kematian dan tanggal 1 September 0 kematian, memang masih ada tapi sudah menunjukkan angka yang menurun," ungkap Lana, Jumat (3/9/2021).

Oleh karenanya, Pemkot Jogja bersama berbagai pihak mengaku akan menguatkan tiga kebijakan yang dijalankan secara beriringan yakni berupa penerapan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas), pelaksanaan 3T (testing, tracing, treatment), serta upaya percepatan vaksinasi.

"Kita tetap usahakan bahwa tiga hal dalam penanganan itu berjalan optimal yakni 3T, 5M, dan vaksinasi. Semuanya juga harus beriringan, artinya tidak ada satu program yang melebihi program yang lain tapi ketiga ini harus sama-sama kita kejar," katanya.

Baca juga: Pemkot Jogja Tingkatkan Kapasitas Vaksinasi Menjadi 10.000 Perhari

Sampai saat ini, Pemkot Jogja terus menggencarkan pelaksaan vaksinasi bagi masyarakat luas. Cakupan vaksin harian juga diperluas dengan tambahan target dan distribusi vaksin ke beberapa sentra dan fasilitas kesehatan yang melayani program vaksinasi. Tak hanya itu, dia menyatakan bahwa penerapan PPKM berjenjang sedikit banyak berpengaruh kepada sebaran kasus dan juga tingkat kematian, hanya saja penurunan mobilitas masyarakat mesti dapat ditekan lagi.

"Upaya kita dalam PPKM memang terlihat ya ada penurunan kasus, di sisi lain mobilitas masyarakat ini yang juga masih tetap ramai ya dan kalau bisa dikurangi hasilnya pasti akan signifikan turun," jelasnya.

Di sisi lain, upaya treatmen atau perawatan kepada pasien Covid-19 juga dioptimalkan. Termasuk penempatan pasien ke sejumlah selter yang dikelola oleh Pemkot Jogja. Namun demikian, Lana menyebut bahwa ada klasifikasi tertentu dalam perawatan pasien Covid-19. Hal ini dilihat dari kondisi pasien yang terlihat tidak bergejala, gelaja ringan, sedang, berat atau masuk dalam kategori kritis.

"Masing-masing level itu juga ada penentuannya, misal kalau yang isoman dan isoter itu kan hanya untuk yang gejala ringan atau tanpa gejala, kemudian kalau gejala sedang bisa ke RS rujukan yang bukan critical tapi kalau kondisinya sudah berat atau kritis itu wajib ke RS critical dan perawatan yang intensif, jadi masing-masing memang disesuaikan dengan gejalanya. Apakah itu isoman di rumah, selter atau lain sebagainya," jelas Lana.

Selain itu, kepada pasien Covid-19 dengan penyakit penyerta (komorbid) juga diupayakan faktor risikonya. Lana berpendapat bahwa upaya dalam mengendalikan risiko pasien Covid-19 dengan komorbid dijalankan agar tingkat kematian bisa diminimalisir serendah mungkin. "Kita akui komorbid memang memperparah ya, sehingga upaya menekan risiko dan pengelolaan Covid-19 nya memang harus dilakukan dengan baik," ucap dia.