Motor Listrik dari Limbah Taklukan Cino Mati

Sejumlah pemrakarsa sepeda motor elektrik Sekolah Menengah Kejuruan Ki Ageng Pemanahan, Jetis, Bantul, berfoto bersama dengan sepeda motor listrik buatannya, beberapa waktu lalu. - Istimewa
04 September 2021 18:57 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Sebuah sepeda motor listrik diciptakan Sekolah Menengah Kejuruan Ki Ageng Pemanahan, Jetis, Bantul. Kendaraan itu kini juga sudah dipesan sejumlah pihak. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Jumali.

Sebuah sepeda motor berwarna hitam dan kuning terparkir di Sekolah Menengah Kejuruan Ki Ageng Pemanahan (SMK KAP). Bentuk sepeda motor ini, sekilas mirip sepeda motor biasa. Roda dari sepeda motor ini memakai roda kendaraan matic, sedangkan kerangka dari potongan besi bekas yang dimodif sedemikian rupa. Sepeda motor memiliki panjang 120 sentimeter dan tinggi 50 sentimeter. Sepeda motor ini mampu menampung dua pengendara dengan beban maksimal 150 kilogram.

Selain itu, listrik dipakai sebagai penggerak mesin. Kendaraan itu ternyata merupakan karya Wandi Purnomo bersama dengan guru dan sejumlah siswa di SMK KAP.

Meski kendaraan itu baru kelar Juli lalu, sepeda motor listrik itu ternyata mendapatkan apresiasi luar biasa dari masyarakat. Bahkan, meski masih dalam bentuk prototipe dan harus terus disempurnakan untuk menjadi sepeda motor listrik, saat ini sudah ada beberapa orang memesan sepeda motor yang diberi nama SMK KAP tersebut.

“Saat ini sudah ada beberapa pemesan. Salah satunya dari Kulonprogo, dan ada juga pesanan dari dokter Tirta. Khusus dokter Tirta, dia pesan dua unit,” kata Wandi, Rabu (1/9).

Padahal, awalnya prototipe sepeda motor listrik yang dibuat oleh enam orang tersebut hanya untuk memenuhi program dari Kemendikbud RI. Ada kewajiban setiap SMK memiliki produk unggulan dan harus berkaitan dengan jurusan yang ada di sekolah tersebut.

Awalnya, Wandi mengaku akan membuat videotron. Namun, pembuatan videotron memakan biaya sangat besar. Padahal, pembiayaan dan SDM di SMK yang terletak di Jalan Parangtritis, Jetis, Bantul itu sangat terbatas. “Lalu muncullah ide membuat motor listrik,” ujar Wandi yang merupakan Kepala Bengkel SMK KAP.

Keinginan membuat motor listrik tersebut sempat mengalami kendala, karena akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Lalu muncul ide membuat motor listrik dari limbah daur ulang dan menggandeng PT Chikal Bakal Mandiri. “Dari situ kami bentuk tim. Ada enam orang, saya sendiri, anak-anak di jurusan Mekatronika dan Teknik Komputer Jaringan. Selain itu kami libatkan guru-guru yang ada, serta dari pihak PT yang menjadi mitra kami,” jelasnya.

Wandi mengaku awalnya akan merakit dua unit sepeda motor listrik. Namun, dalam perkembangannya, hanya satu unit yang difokuskan dan berhasil. Sebab, ada keterbatasan bahan yang digunakan. Alhasil, Wandi pun memilih fokus menyempurnakan prototipe menjadi sepeda motor listrik.  Adapun komponen lain, seperti lampu menggunakan komponen sepeda.

Untuk baterai yang dicangkokkan di bawah jok sepeda motor, SMKAP menggunakan beberapa unit baterai laptop yang dirangkai jadi satu dan menghasilkan baterai berkekuatan 48 Volt.

Alhasil, dalam sekali pengisian yang hanya membutuhkan hitungan jam, baterai yang ada mampu menggerakkan dinamo yang terpasang di dua roda hingga puluhan kilometer.

“Yang jelas, jika baterai full dicharge, maka sepeda motor ini bisa melaju selama 30 menit. Tergantung medannya,” ujar Wandi.

Untuk memastikan sepeda motor ini layak untuk dikendarai, Wandi mengaku telah melakukan beberapa kali uji coba. Salah satunya adalah mencobanya di tanjakan curam, seperti jalur Cinomati, Dlingo. Sepeda motor ini lancar saja melahap tanjakan. “Tapi, memang saat menanjak, kami gunakan penggerak roda depan dan belakang. Karena memakai dinamo, sehingga dua roda ini bisa berjalan maksimal. Karena medannya menanjak, maka baterai otomatis banyak tersedot. Tapi, gampang kok mengisinya, tinggal colokan saja ke stop kontak, karena baterainya juga kecil,” jelas Wandi.

Wandi mengaku untuk bisa memboyong sepeda motor listrik SMK KAP, calon pembeli harus merogoh kocek Rp9 juta per unit. Besaran harga tersebut adalah harga minimal. Sebab, pihaknya juga menerima pesanan sepeda motor listrik sesuai dengan keinginan pemesan.

“Seperti yang di Kulonprogo ini minta ada tambahan beberapa. Jadi bentuknya bisa custom dan kami siap untuk itu,” ungkap Wandi.

Tirta Hudi atau yang lebih dikenal dokter Tirta mengaku telah memesan dua unit sepeda motor listrik SMK KAP. Tirta menuliskan hal itu pada akun Instagram-nya pada 24 Agustus 2021 lalu. Ia menyebut bahwa motor tersebut merupakan buatan dan kreasi anak bangsa asal Jogja.

"Hari ini dapat kabar, ada sebuah motor listrik kecil karya teman-teman SMK KAP kerja sama dengan PT Chikal Bakal Mandiri di Yogyakarta. Saya tau dari mas piel. Hebatnya lagi ini prototype dibuat dari limbah! Serius! Motor listrik ini masih prototype, ya sebagai support #localpride saya memutuskan membeli 2 produk dari kawan kawan. Walau sistem pre order, ga masalah," katanya.