900 Ton Gandum Sudah Dikirim ke Palestina, Laju Peduli Ungkap Sumbernya
Laju Peduli telah mengirim lebih dari 900 ton gandum ke Palestina selama delapan tahun. Bantuan dihimpun dari sedekah masyarakat.
Ilustrasi BPJS Kesehatan./Bisnis Indonesia-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, SLEMAN- Manfaat menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) KIS sangat dirasakan oleh Jatmiko, warga Sanggrahan, Maguwoharjo, Depok, Sleman.
Dalam layanan kesehatan, Miko sapaan akrab Jatmiko, awalnya belum menjadi peserta BPJS Kesehatan. Saat itu, sebelum 2015 istrinya melahirkan anak pertama. Dikarenakan satu dan lain hal, proses persalinan harus dilakukan secara sesar.
"Iya, waktu itu anak pertama sesar. Biaya sendiri, kalau tidak salah habis Rp12 jutaa-an. Saya waktu itu belum menjadi peserta BPJS Kesehatan," cerita Miko kepada Harian Jogja, Jumat (10/9/2021).
Beberapa bulan setelahnya, Miko mulai berfikir untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan secara mandiri. Ia pun mendaftarkan keluarganya untuk mengikuti program JKN KIS tersebut. Keputusannya sangat tepat. Pasalnya, saat persalinan anak keduanya, prosesnya kembali dilakukan secara sesar.
BACA JUGA: Uji Coba Pembukaan Objek Wisata Taman Pintar Dialihkan ke Gembira Loka Zoo
"Ini berangkat dari pengalaman pertama biasanya begitu. Nah, anak kedua lahir dengan cara sesar. Alhamdulillah proses persalinan sesar ditanggung BPJS Kesehatan," katanya.
Ia mengaku, saat itu hanya membayar Rp2 jutaan karena naik kelas waktu itu. Namun proses kenaikan kelas dan pembayaran tersebut juga sudah disampaikan sebelumnya oleh managemen rumah sakit. "Iya tidak masalah itu karena memang waktu itu saya minta naik kelas," katanya.
Diakuinya, manfaat menjadi peserta program JKN KIS sangat besar. Hal itu diutarakan karena seseorang jatuh sakit atau mengalami gangguan kesehatan tidak diketahui kapan waktunya. Dengan menjadi peserta BPJS, katanya, maka ia akan mendapatkan perlindungan kesehatan.
"Jadi kalau sakit bisa langsung periksa. Ya sesuai prosedur. Kemarin, istri saya kembali periksa karena sakit di bagian perutnya. Setelah diperiksa rupanya ada semacam (embrio) kista," katanya.
Keberadaan kista tersebut, lanjut Miko diketahui setelah ia meminta rujukan dari Fasilitas Kesehatan (Faskes) Pertama ke Faskes Kedua untuk melakukan USG Abdomen. USG Abdomen berfungsi untuk mendeteksi perubahan dalam organ, jaringan, dan mendeteksi massa abnormal.
"Setelah USG Abdomen itu baru diketahui adanya kista. USG tidak bayar. Kalau bayar bisa Rp750.000 sekali periksa. Dokter awalnya menyuruh untuk operasi, tapi istri saya masih mau pikir-pikir dulu. Nanti lihat perkembangan dulu," kata Miko.
Dia mengajak warga yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan untuk segera mendaftar karena manfaat menjadi peserta JKN KIS sangat besar dibandingkan tidak menjadi peserta. "Apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19 di mana ekonomi masih lesu. Tiba-tiba sakit, harus opname dan operasi, biaya dari mana kalau tidak menjadi peserta BPJS Kesehatan?"ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Laju Peduli telah mengirim lebih dari 900 ton gandum ke Palestina selama delapan tahun. Bantuan dihimpun dari sedekah masyarakat.
John Herdman menegaskan tidak ada perbedaan pemain lokal, diaspora, dan naturalisasi di Timnas Indonesia usai menang 2-0 atas Singapura.
Daratan Gunung Anak Krakatau kini mencapai 341,5 hektare, melampaui luas sebelum kolaps pada Desember 2018.
Adi Prayitno menilai PPP punya modal politik dari elektabilitas 3,4 persen untuk memperkuat mesin partai menuju Pemilu 2029.
Cristian Romero ditunjuk menjadi kapten baru Argentina setelah Lionel Messi pensiun dari sepak bola internasional.
Lowongan Mekanik Trans Jogja dibuka hingga 30 September 2026. Lulusan SMK dan fresh graduate bisa cek syarat serta cara daftarnya.