Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta saat meninjau ketersediaan pupuk bersubsidi di gudang PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri), Wonosari, Senin (13/09/2021)./istimewa-Pemkab Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Bupati Gunungkidul Sunaryanta optimistis tidak ada kelangkaan pupuk jelang masa tanam pertama di awal musim hujan. keyakinan tersebut tak lepas adanya tambahan serta kuotanya mencapai 18.000 ton di tahun ini.
“Masih mencukupi karena penambahan sudah sesuai dengan perhitungan kebutuhan pupuk di petani,” kata Sunaryanta kepada wartawan di sela-sela kunjungan di gudang PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri), Wonosari, Senin (13/09/2021).
Menurut dia, kenaikan pupuk di 2021 mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan kuota yang diberikan di tahun-tahun sebelumnya. Sunaryanta pun berharap ketersediaan pupuk ini dapat mendorong upaya peningkatan produktivitas pertanian di Gunungkidul, yang selama ini dikenal sebagai salah satu gudang pangan di DIY.
“Biasanya kuotanya hanya 13.000 ton, tapi tahun ini hampir mencapai 18.000 ton untuk didistribusikan ke petani di Gunungkidul,” ungkapnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono. Menurut dia, kuota cukup masih sagat mencukupi sehingga tidak ada kelangkaan di pasaran. “Stok masih aman dan petani tidak perlu khawatir,” katanya.
Baca juga: 3 Tempat Wisata di DIY Resmi Dibuka, Siapkan 2 Aplikasi Ini Jika Ingin Berkunjung!
Raharjo menjelaskan, keberadaan pupuk menjadi salah satu komponen penting dalam perawatan tanaman. Ia pun menilai hasil panen di tahun ini sangat bagus karena bisa melampaui target yang telah dicanangkan. “Contohnya padi. Hasilnya bagus dan bisa mencapai 291.031 ton gabah kering giling. Jumlah ini melampaui hasil panen di 2020 lalu,” katanya.
Perwakilan Penjualan PT Pusri Wilayah DIY dan Jateng, Imam Triyono mengatakan proses distribusi dilakukan secara berjenjang hingga sampai di tangan petani. Menurut dia, petani yang ingin mendapatkan pupuk bersubsidi bisa menggunakan Kartu Tani. “Di kartu ini sudah terdata kuota pupuk yang bisa diterima tiap petani,” katanya.
Imam mengakui hingga saat ini masih ada petani yang belum memiliki Kartu Tani. Meski demkian, ia memastikan para petani ini masih bisa mendapatkan pupuk subsidi secara manual dengan catatan sudah terdaftar dalam sistem Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok tani (RDKK). “Masih bisa ditebus dengan cara biasa tanpa kartu, jadi petani tidak perlu khawatir. Asalkan terdata dalam RDKK, maka masih bisa menebus pupuk bersubsidi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
DPRD Gunungkidul menyoroti sejumlah sekolah yang belum menerima MBG dan mendorong perluasan program agar lebih merata.
Pieter Huistra menyebut pemain asing PSS Sleman masih beradaptasi. PSS juga membuka peluang merekrut pemain lokal dan menyiapkan uji coba.
MA mengoreksi perhitungan kerugian negara kasus korupsi timah. Dari Rp300 triliun, kerugian keuangan negara ditetapkan Rp28,9 triliun.
Pemkab Temanggung mendukung wacana guru PPPK menjadi ASN pusat. Beban APBD daerah berpotensi berkurang sekitar Rp150,5 miliar.
DPRD Bantul mengkaji usulan perubahan Perbup BUMKalma setelah pengelola menyoroti kebutuhan operasional dan penguatan kelembagaan.