Advertisement

Sudah 9 Kali, Pembuangan Bayi Marak Terjadi di TPST Piyungan

Jumali
Minggu, 03 Oktober 2021 - 13:57 WIB
Sunartono
Sudah 9 Kali, Pembuangan Bayi Marak Terjadi di TPST Piyungan Ilustrasi mayat bayi. - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL--Paguyuban Pemulung Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan mencatat sejak TPST berdiri sudah ada sebanyak 9 mayat bayi di temukan di lokasi tersebut. Kali terakhir para pemulung menemukan mayat bayi kembar dibuang pada akhir 2020 lalu.  

Ketua Paguyuban Pemulung Mardiko Piyungan Maryono mengatakan, kesembilan mayat bayi tersebut ditemukan oleh anggotanya di atas tumpukan sampah. Mayat tersebut biasanya dibungkus plastik menyerupai sampah dan ditemukan oleh para pemulung saat mengais sampah.

Advertisement

BACA JUGA : Polisi Tangkap Mahasiswi Pembuang Bayi di Umbulharjo

"Sejak 1996 sampai akhir 2020 sudah ada 9 bayi dibuang dan ditemukan oleh teman-teman. Tapi setelah penemuan mayat bayi kembar di akhir 2020 lalu, kami sudah tidak menemukan adanya mayat bayi yang dibuang," katanya, Minggu (3/10/2021).

Meski demikian, Maryono memperkirakan kemungkinan masih ada mayat bayi lain yang akhirnya tidak ditemukan anggotanya. "Kami berharap tidak ada lagi kasus ini di tempat kami," harapnya.

Sementara data di Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan (Dinsos P3A) Bantul mencatat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ada 3 bayi yang dibuang.

"Tiap tahunnya ada satu kasus. Biasanya terjadi di daerah yang berbatasan dengan Kota Jogja, seperti Sewon, Kasihan dan beberapa lokasi yang berbatasan dengan kota," kata Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Dinsos P3A Bantul Tunik Wusri Arliani.

BACA JUGA : Pelaku Pembuangan Bayi di Indekos Prambanan Ternyata

Oleh Dinsos P3A, lanjut Tunik, biasanya bayi tersebut kemudian dibawa ke panti asuhan untuk dirawat. Adapun faktor yang membuat bayi tersebut dibuang diperkirakan karena sejumlah persoalan.

Advertisement

"Melihat kasusnya banyak di daerah perbatasan, biasanya pelakunya adalah kaum urban. Dan DIY ini kan banyak pendatang," ucapnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Cek Jadwal KRL Jogja-Solo 1 Juli 2022

Cek Jadwal KRL Jogja-Solo 1 Juli 2022

Jogjapolitan | 6 hours ago
OPINI: Gaji ke-13 Anda Untuk APA?

OPINI: Gaji ke-13 Anda Untuk APA?

Jogjapolitan | 6 hours ago
Top 7 News Harianjogja.com 1 Juli 2022

Top 7 News Harianjogja.com 1 Juli 2022

Jogjapolitan | 6 hours ago

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Asosiasi Petani Tembakau Dukung Pemimpin yang Pro Petani Tembakau di Pilpres 2024

News
| Jum'at, 01 Juli 2022, 15:07 WIB

Advertisement

alt

Dieng Culture Festival 2022 Digelar September 2022

Wisata
| Jum'at, 01 Juli 2022, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement