11 Kelurahan Dapat Sosialisasi tentang Sumbu Filosofi

Suasana sosialisasi sumbu filosofi di Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis yang diikuti sekitar 30 warga, Jumat (1/10) lalu. (Harian Jogja - Ujang Hasanudin)
04 Oktober 2021 06:47 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan DIY, melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi terus berupaya menyosialisasikan penanda sumbu filosifi kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan kepada masyarakat di 11 kelurahan dari Kelurahan Gowongan di kawasan Tugu hingga masyarakat Kalurahan Panggungharo, atau sekitar Kandang Menjangan Krapyak.

“Hanya 11 kelurahan atau kalurahan yang masuk kawasan sumbu filosofi hanya di situ. Kita belum masuk ke kawasan Imogiri atau makam raja-raja Mataram yang juga masuk sumbu filosofi,” kata Kepala Seksi Edukasi, Humas, Monitoring dan Evaluasi Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, Dinas Kebudayaan DIY, Yohannes, seusai menyosialisasikan sumbu filosofi Sangkan Paraning Dumadi di Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Jumat (1/10), pekan lalu.

Yohanes mengatakan konsep sumbu filosofi sebenarnya sudah ada sejak awal, jauh sebelumnya, atau sejak era Pangeran Mangkubumi. Ia menyebut sosialisasi sumbu filosofi kepada masyarakat dilakukan agar DIY diakui sebagai warisan dunia oleh Unesco.  “Harus ada penamaan yang lebih bisa diterima oleh mereka masyarakat Barat sekaligus tidak asing oleh masyarakat Jawa,” katanya.

Ia menambahkan masyarakat Barat tidak mengenal filosofi, Sedangkan masyarakat Jawa juga belum banyak tahu mengerti cosmology axis atau sumbu filosofi.

“Sehingga ini menjembatani kenapa namanya sumbu filosofi menjadi jembatan antara Unesco dengan pemahaman dunia Barat yang tidak mengerti filosofi dengan masyarakat kita yang tak mengerti cosmology. Maka kami keluarkan itu, mengenalkan masyarakat meski tata nilai sudah ada dari dulu. Paraning dumadi nyawiji greget sungkuh ora mingkuh itu sesuatu sudah ada. Anak muda sekadang tak kenal kita kenalkan dulu,” kata Yohanes.

Memang diakui Yohanse cukup sulit mengenalkan sumbu filosifi yang kental dengan nilai-nilai luhur. Butuh proses panjang upaya pengenalannya. Menurut dia yang paling mudah untuk dimengerti adalah melalui penada terlebih dahulu, seperti Tugu kenapa bisa ada, Kepatihan, Pasar Bringharjo, Kraton, Tamansari, Alun-alun, dan Krapyak, ditambah dengan makam raja-raja di Imogiri.

Ia mengatakan jawatannya sudah mengajukan sumbu filosofi tersebut ke Unesco dan sudah ada informasi agar DIY menyelesaikan peta untuk menyelaraskan kembali gambar, supaya Unesco bisa memahami dan menentukan batas-batasnya.

“Rencananya Februari tahun depan akan dilihat di bagian mana kekurangannya dan bagaimana seharusnya,” katanya.

“Penanda sedari awal sudah ada antara Panggung Krapyak ke Kraton mengandung tata nilai sangkaning dumadi, Tugu ke Kraton paraning dumadi. Makanya diberi pemahaman baru kosep baru paraning dumadi atau proses daur hidup manusia dari kelahiran sampai meninggalnya nanti,” ujar Yohanes.

Nilai nilai itu diakui Yohanes sudah lama ditinggalkan masyarakat, saat ini diungkap kembali, dikenalkan secara rinci kepada masyarakat. Yang paling mudah untuk mengenalkannya terutama kepada generasi muda adalah melalui atribut yang ada atau penandanya misalnya seperti makna Tugu sampai Panggung Krapyak dan bagaimana hubungannya. (ADV)