Advertisement

Warga Ngemplak Sleman Lestarikan Kenduri Rebo Wekasan

Lugas Subarkah
Rabu, 06 Oktober 2021 - 20:07 WIB
Budi Cahyana
Warga Ngemplak Sleman Lestarikan Kenduri Rebo Wekasan Warga Padukuhan Krandon, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak menghadiri Kenduri Rebo Wekasan, Selasa (5/10/2021) malam. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Di serambi Masjid Miftahul Jannah Padukuhan Krandon, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, puluhan warga lintas strata, usia dan gender berkumpul menggelar upacara tradisi Kenduri Rebo Wekasan, Selasa (5/10/2021) malam.

Dengan formasi duduk melingkar beralas tikar dan karpet, warga dengan khidmat mengikuti prosesi kenduri. Tradisi tersebut sudah berjalan sejak lama, bahkan sejak sebelum masjid setempat berdiri tahun 1942. Sebelum berdirinya masjid, kenduri dilaksanakan di langgar atau musala kecil.

Ketua Desa Mandiri Budaya Wedomartani, Mujiburokhman, menuturkan sejarah singkat Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan tersebut. Dikisahkan oleh seorang Ulama ahli Khasaf, yakni seorang ulama yang diberi kelebihan mengetahui hal-hal ghaib.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Setiap Rabu pada akhir Bulan Safar, menurut Mujiburokhman, Allah menurunkan 320.000 jenis bencana dan untuk menolak bencana tersebut, manusia perlu melaksanakan salat sunat empat rakaat dan dengan bacaan serta doa tertentu. Di samping itu dianjurkan pula untuk banyak bersedekah, karena dengan sedekah diyakini dapat menjauhkan dari bencana.

"Sementara arti serta makna budaya dalam upacara Kenduri Rebo Wekasan atau Pungkasan adalah sebagai media masyarakat untuk bertemu, bergotong royong dengan saling mengasihi dan melaksanakan doa bersama," ujarnya.

Dengan terus mempertahankan dan melestarikan tradisi Rebo Wekasan, diharapkan setiap insan untuk terus saling mengasihi dan membiasakan melakukan doa secara bersama atau berjamaah, sehingga akan lebih memudahkan terkabulnya hajat dan terhindarnya dari bencana.

Dalam gelaran tradisi Kenduri Rebo Wekasan tersebut, tersaji beragam makanan serta kudapan khas masyarakat lokal, antara lain nasi dengan kelengkapan lauk-pauknya, jajanan pasar dan beraneka buah-buahan. Yang khas dari kenduri ini adalah membagikan uang Rp2.000 - Rp5.000 untuk anak-anak yang turut hadir dalam kenduri tersebut.

Menurutnya, menghidupkan kembali tradisi leluhur di tengah hiruknya interaksi digital menjadi tantangan tersendiri bagi warga desa. Untuk itu dibutuhkan peran para pihak untuk terus merawat tradisi guna mencerdaskan generasi.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Ini Dia 3 Anggota Baru Bawaslu DIY

Ini Dia 3 Anggota Baru Bawaslu DIY

Jogjapolitan | 7 hours ago

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kejagung Periksa 4 Pejabat BUMN Waskita Karya

News
| Selasa, 27 September 2022, 04:27 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement