Biennale Jogja XVI Equator #6: Konsistensi Selama Satu Dekade

Pameran seni Biennale Jogja XVI Equator 6 2021 di JNM pada Rabu (7/10/2021) malam. - Istimewa
08 Oktober 2021 06:47 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pameran seni Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 resmi dibuka pada Rabu (7/10/2021) malam. Tahun ini adalah penanda satu dekade Biennale Jogja sebagai perhelatan alternatif hadir di jagad seni sekaligus era terakhir dari eksplorasi Seri Khatulistiwa. Pameran digelar di empat titik sekaligus secara daring dan luring. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Yosef Leon.

Suara betotan bas begitu kentara terdengar dalam pembukaan penampil Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 di Jogja National Museum (JNM). Kelompok musik Mother Bank Band yang dikenal karena konsep utang nirlaba, menjadi penampil perdana dalam gelaran seni dwi tahunan itu. Tiga judul lagu yakni Menanam, Watare, dan Jalan-Jalan dituntaskan dalam penampilannya. Liriknya serupa syair yang sangat lekat dengan persoalan hidup sehari-hari.

Pembukaan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 juga dimeriahkan dengan pemusik Nova Ruth serta Asep Nayak asal Wamena. Dibungkus dengan tema Indonesia with Oceania, seremonial pembukaan tirai putih dengan lanskap artwork yang diusung di belakangnya menjadi penanda telah dibukanya pameran ini secara resmi sampai dengan 14 November mendatang. Pengunjung juga bisa mengakses karya-karya yang ditampilkan secara daring lewat https://biennalejogja.org/.

"Sebagaimana dengan penyelenggaraan kegiatan di masa pandemi, kami coba melakukan inovasi dan kreasi agar kegiatan tidak menjenuhkan lewat kolaborasi dengan berbagai instansi, seniman dan berbagai pihak lainnya. Banyak dinamika yang kami lewati dalam mempersiapkan acara ini, tetapi dinamika ternyata mendewasakan kami dalam berproses hingga akhirnya saat ini bisa mempersembahkan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021," kata Direktur Biennale Jogja XVI Equator #6 2021, Gintani Nur Apresia Swastika.

Gintani menuturkan pameran ini melibatkan 34 seniman dan komunitas dari berbagai daerah dan negara yang berlangsung di empat titik lokasi yakni JNM, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat dan Indie Art House. Kegiatan utama akan berpusat di JNM dengan tema khusus Roots<>Routes, di TBY dihadirkan berbagai macam koleksi arsip sepanjang 10 tahun penyelenggaraan Biennale Jogja seri Khatulistiwa, sementara pameran lainnya adalah Bilik Negara Korea dan Taiwan yang digelar di dua lokasi lain.

"Akan ada 70 agenda pengiring yang nyaris digelar setiap hari sebagai aktivasi pameran Biennale Jogja tahun ini yang juga menjadi penutup serangkaian seri Khatulistiwa," ujarnya.

Dalam sambutan secara daring, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengapresiasi gelaran seni Biennale Jogja yang sekaligus sebagai penegas predikat Kota Jogja sebagai kota budaya, pendidikan, dan pariwisata. Sultan menyebut tema Equator yang dipilih menjadi platform gagasan multidisiplin sekaligus landmark geografis, geologis,  ekologis, etnografis, historis, dan politis yang memiliki kesamaan identitas dari para negara bekas jajahan. "Kawasan ini menjanjikan banyak aspek menarik untuk dieksplorasi karena keragamannya mencerminkan kekayaan budaya masyarakat," ungkap Sultan.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan berakhirnya serial Khatulistiwa yang diusung Biennale Jogja selama satu dekade ini adalah rangkaian panjang dari penyelenggaran pameran seni. Ada catatan historis yang mesti diapresiasi lewat konsistensi tema yang diangkat oleh penyelenggara Biennale Jogja melalui kehadiran konsep, ide dan pertarungan kuat nan berat dalam perjalanan seni rupa Tanah Air.

"Pemikiran yang luar biasa yang sudah dicurahkan merupakan catatan sejarah yang kuat. Kami akan menanti ide-ide baru dengan konsep historis yang aktual dalam kesempatan yang akan datang. Kami harap berakhirnya serial Khatulistiwa jadi penyemangat baru bagi teman-teman untuk menghadirkan inspirasi dalam serial lainnya," ujar Dian.