Sumbu Filosofi Disosialisasikan Lewat Medsos dengan Gaya Kekinian

Pengerjaan proyek revitalisasi Tugu Jogja sebagai salah satu atribut sumbu filosofi Kota Jogja, Oktober 2020. - Harian Jogja/Desy Suryanto
08 Oktober 2021 07:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemda DIY terus berupaya melakukan sosialisasi terkait keberadaan sumbu filosofi terutama di kalangan anak muda agar dapat dikenal dan dipahami, salah satunya melalui media sosial. Sosialisasi ke masyarakat umum juga terus dilakukan, proses penataan sumbu filosofi ini sepenuhnya melibatkan masyarakat sekitar.

Paniradya Pati Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho menjelaskan penataan sumbu filosofi dilakukan dengan melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga kabupaten dan kota. Adapun Paniradya Kaistimewan DIY meramu berbagai usulan OPD agar sinkron dengan program yang sudah dimiliki Dinas Kebudayaan DIY. Proses ini dilakukan agar pengajuan sumbu filosofi Kota Jogja sebagai warisan budaya dunia ke Unesco dapat berjalan lancar, yang tahapannya sedang dilakukan oleh Disbud DIY.

BACA JUGA : Satu-satunya di Dunia, Sumbu Filosofi Jogja Syarat Nilai 

“Kami memfasilitasi aktivitas yang menjadi bagian kesepakatan antara Disbud dengan OPD yang lain. Karena sumbu filosofi ini tidak bisa hanya dilakukan Disbud tetapi harus bersama dengan OPD lain. Misalnya bagaimana penanganan PKL Malioboro, arsitekturnya, transportasinya. Kita meramu usulan OPD agar sinkron dengan program yang sudah dibikin oleh Dinas Kebudayaan,” kata Aris Rabu (6/10/2021).

Sosialisasi yang dilakukan selain menyasar masyarakat umum juga kalangan milenial. Sosialisasi sumbu filosofi ke kalangan milenial dengan pendekatan kebutuhan anak muda. Salah satunya media sosial seperti Youtube, Instagram, Twitter Facebook serta berbagai jenis platform lainnya. Selain itu informasi yang disajikan lebih bersifat mudah dicerna. Berbagai atribut serta hal yang berkaitan dengan sumbul filosofi disuguhkan melalui media sosial agar dapat diakses anak muda.

“Kami harus menyesuaikan dengan anak muda, salah satunya lewat medsos. Harapannya anak muda lebih tertarik. Contohnya sesuatu hal yang terjadi atau warisan zaman dahulu dikemas dengan format kekinian sehingga informasi mudah dicerna di kalangan anak. Misalnya bagaimana kami menampilkan sesuatu atribut yang dulu pernah ada di kawasan Malioboro,” katanya.

Selain itu melalui menyasar kalangan pelajar melalui koordinasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mata pelajaran tertentu. Harapannya guru dapat menyampaikan ke siswa melalui format sekadar info atau pengetahuan. “Kalau sasaran anak-anak, pelajar kami berkoordinasi dengan MGMP,” ujarnya.

BACA JUGA : Atribut Sumbu Filosofi Perlu Dihadirkan Agar Masyarakat

Sosialisasi ini sangat penting dilakukan agar masyarakat mengetahui. Karena proses penilaian yang akan dilakukan Unesco dimungkinkan akan terjun langsung ke Jogja untuk melihat secara langsung dari berbagai aspek di lapangan. Sehingga persiapan sumbul filosofi menuju warisan budaya dunia ini melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Adapun sosialisasi pemasangan informasi seputar sumbu filosofi sekitar Malioboro saat ini sudah mulai dilakukan. Termasuk nantinya berkaitan dengan keinginan masyarakat agar Malioboro menjadi kawasan bersih, sehingga harus dikomunikasikan dengan Pemerintah Kota Jogja dengan kemantren dan kelurahan.

“Kalau penilaian dilakukan dengan ada yang langsung datang ke lokasi menanyakan proses itu betul atau tidak. Artinya sosialisasi ke masyarakat itu menjadi bagian yang sangat penting. Mereka [Unesco] tentu tidak sekedar percaya dengan kertas dan presentasi tim kami tetapi mereka akan datang ke Jogja terlibat langsung dengan masyarakat. Harapan kami apa yang sudah disiapkan ini betul-betul melibatkan masyarakat, masyarakat tahu konsep yang dimiliki pemerintah sehingga mereka pun handarbeni dengan aktivitas yang ada di Jogja khususnya di sumbu filosofi,” ucapnya.