Atribut Sumbu Filosofi Perlu Dihadirkan Agar Masyarakat Familier

Pelaksanaan Talk Show Yogyakarta Menuju Warisan Budaya Dunia, Kamis (30/9/2021). - Harian Jogja/Sunartono
01 Oktober 2021 07:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Keberadaan sumbu filosofi Kota Jogja yang memiliki nilai luhur sangat relevan sebagai pengingat kehidupan di masa saat ini maupun mendatang. Oleh karena itu atribut sumbu filosofi ini harus dihadirkan agar masyarakat mulai akrab atau familier.

Tim Penyiapan Yogyakarta Warisan Dunia, Purwadmadi menjelaskan dalam budaya Jawa ada istilah njawani dan mriyayeni yang sangat berkaitan dengan keluhuran budaya dan edukasi. Menurutnya njawani, mriyayeni itu tentu tidak serta bisa dicapai seseorang, tetapi ekspresi berkaitan dengan kebiasaan sifat karakter bahkan sudah menjadi kebiasaan. Selain itu tidak didapatkan dari pelakunya namun justru dari publik atau orang lain. Njawani itu sudah jadi satuan perilaku dan etika.

“Kalau njawani itu tidak dibatasi struktur bahasa, apa iya misalnya yang pakai bahasa Jawa otomatis njawani yang andap asor itu langsung mriyayeni, tidak mesti. Sehingga struktur mriyayeni njawani itu bisa berbeda, dengan demikian kategori struktur untuk mencapai etika tertentu tidak bisa dibatasi struktur etnis,” katanya dalam Talk Show Yogyakarta Menuju Warisan Budaya Dunia, Kamis (30/9/2021).

Tim Penyiapan Yogyakarta Warisan Dunia, Revianto Budi Santosa menyatakan manusia pada umumnya rindu akan nilai yang digagaskan dalam berbagai hal. Terutama jika nilai itu diwujudkan dalam bentuk kota isunya banyak orang, umur lebih dari 250 tahun seperti Jogja, tentu banyak sejarahnya.

Baca juga: Soal Penambahan Objek Wisata yang Dibuka, Ini Update dari Pemda DIY

Dalam pembentukan kota ada hal mulia dicita-citakan diisi oleh pendirinya, sehingga ketika menyebut sumbu filosofi ada nilai yang ingin dicapai. Apalagi komersialisasi zaman dahulu berbeda dengan sekarang, saat ini kondisi sumbu filosofi kawasan Malioboro misalnya semakin ramai dan menjadikan godaan duniawi kian berat.

“Tetapi sekarang Malioboro ini sumbu komersial, bukan tempat berkontemplasi, Malioboro tempat belanja jalan-jalan, itu dinamika. Sehingga saya memahami keberadaan sumbu filosofi ini untuk mengingatkan di balik gemerlap dunia ada hal mulia yang bisa didapatkan di sini,” katanya.

Ia menilai kota yang baik adalah kota yang memiliki nilai luhur tetapi memberikan peluang kepada generasi berikutnya untuk mengisinya sesuai kondisi zaman. Sehingga sah-sah saja mempercantik tata kota seperti halnya di kawasan sumbu filosofi yang memberikan nuansa fasad berbeda dari Tugu hingga Kraton Jogja karena di dalamnya ada pesan nilai.

Revi sepakat generasi milenial saat ini harus diajak untuk memaknai sumbu filosofi. Langkah awal yang harus dilakukan adalah berusaha untuk mendengarkan mereka lebih dahulu karena harus menggunakan pendekatan yang berbeda. Setelah itu mengakui eksistensi milenial kemudian mendengarkan, mendialogkannya lalu berjalan bersama untuk memaknai sumbu filosofi.

“Kalau di Eropa secara umum hanya mempertimbangkan monumen yang layak dilestarikan tetapi kemudian berkembang pada bangunan kesatuan tempat. Tetapi terpenting dalam memaknai itu terus berkembang, karena apa artinya melestarikan jika kita kehilangan maknanya. Realita Jalan Pecinan itu bagian dari realita tata kota. Itu enggak njawani karena bukan jalan Jawa, kita perlu membuat komunikasi yang baik,” ucap Revi.

Sementara itu Purwadmadi menilai ada beberapa prinsip menyebabkan komunikasi budaya lintas generasi gagal. Antara lain perubahan transformatif bahwa kebudayaan itu kerja sosial dan kebudayaan bukan masa lalu. Persoalan sering dihadapkan masa lalu yang ditafsir sebagai ahli waris budaya, padahal orang saat ini produsen budaya yang berhak mewariskan budaya. Sehingga dialog generasi muda menjadi penting.

Baca juga: Kematian Pasien Covid-19 Menurun, Sisa Peti Jenazah Akan Dibagikan Gratis

“Kita cermati soal perubahan, dalam bentuk komunikasi. Yang paling pokok kita yakin bahwa perubahan itu cara melestarikan budaya, tetapi persoalan itu bisa dikelola dengan baik memiliki manfaat kepada generasi saat ini dan berikutnya,” katanya.

Ia meyakini proses budaya dan teknologi yang semakin canggih pasti akan bisa bersatu sehingga tidak perlu dipertentangkan, dengan catatan, proses budaya itu dimediasi dengan wilayah yang lebih luas. Karena hakekatnya alat untuk menyebarluaskan budaya itu adalah produk budaya.

“Kondisi terkini Malioboro bisa dijelaskan supaya bisa memulangkan kepada nilai dasar kepada pendiri kota. Bahwa nilai di Malioboro itu masih punya manfaat untuk generasi terkini dan mendatang,” katanya lagi.

Banyak Tantangan

Revianto Budi Santosa melihat untuk memahamkan masyarakat dengan sumbu filosofi memang penuh tantangan, namun banyak cara efektif yang bisa dilakukan. Antara lain dengan cara mengakrabkan, kemudian membangun dialog baru kemudian masuk pada sosialisasi nilai.

“Eksperimen menarik dari Kraton pernah menyelenggarakan flashmob di Malioboro seluruh jalan penuh dan menarik. Itu bisa diadopsi, dikenal dulu tidak tahu filosofi dulu tidak apa-apa. Teknologi membantu itu untuk merekamnya. Dibikin viral dan menarik. Itu bisa digunakan model untuk mengakrabkan melibatkan baru membekalkan,” ucapnya.

Purwadmadi sepakat, semua atribut sumbu filosofi harus dihadirkan atau diperkenalkan ke masyarakat. Atribut penanda nilai luhur yang dimaksud seperti Tugu, Pasar Beringharjo, Gereja, Vredeburg. Informasi harus dibuat dengan menjangkau media interaktif yang langsung ke tangan masyarakat baik yang datang ke Malioboro maupun masyarakat umum.

“Kita memang harus membangun informasi yang sehat, Sumbu filosofi dikenalkan dari berbagai sudut pandang untuk mengisi ruang informasi agar jadi kekuatan masyarakat. Kalau ada media sosial bisa untuk gerakan,” ujarnya.