Mahasiswa UNY Bikin Aplikasi untuk Mengurangi Aksi Klithih

Ilustrasi - Istimewa/Polsek Banguntapan
13 Oktober 2021 20:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berupaya mengurangi aksi klithih atau kejahatan jalanan yang dilakukan oleh sekelompok remaja di Jogja dengan pelatihan pemberdayaan psikis dan perilaku melalui implementasi program Sekolah Anti Klithih (Setiti).

Mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika yang tergabung dalam Kelompok Setiti, Aziz Muzaki menjelaskan mereka berupaya mereduksi klithih melalui pelatihan pemberdayaan psikis dan perilaku yang diwadahi dalam Setiti yang berbasis aplikasi ponsel. Dalam program ini sekolah digandeng sebagai mitra.

BACA JUGA: Lurah di Gunungkidul Pakai Uang Korupsi JJLS untuk Foya-foya & Bayar Utang

“Sekolah sebagai mitra kegiatan ini juga mengharapkan adanya media sebagai wadah konseling agar guru Bimbingan Konseling [BK] dan pelajar dapat berkomunikasi dari hati ke hati,” ujarnya, Rabu (13/10/2021).

Menurutnya, selama ini berbagai upaya pencegahan telah dilakukan guru untuk mengurangi aksi klithih, seperti razia di sekolah atau di komunitas, serta pembatasan jam operasional kegiatan bermasyarakat. Namun solusi itu belum mampu menekan aksi klithih.

Anggota kelompok lainnya, Hajidah Salsabila Allissa Fitri mengatakan kelompoknya menggandeng MAN 3 Sleman sebagai sekolah mitra kerja dengan harapan para siswa dapat berperan aktif sehingga transfer ilmu yang diperoleh dari program tersebut dapat dirasakan. “Sehingga membawa pengaruh baik kepada pelajar lain,” ujarnya.

Kelompok ini membuat modul Setiti yang diwadahi dalam mobile application sebagai media edukasi anti-klithih. Aplikasi ini dibuat untuk memudahkan sasaran menerima ilmu yang ditransfer yang memuat fitur akses modul, akses buku pedoman dan unggah video beserta poster.

BACA JUGA: Musim Hujan Tiba Lebih Awal di DIY, Ini Perkiraan BMKG

Putri Milenia Gusdian mengatakan dalam program monitoring dan pendampingan, siswa dapat berinteraksi secara santai atau bahkan melakukan konseling tentang hal-hal yang meninggalkan trauma bagi para pelajar. “Kegiatan ini menjadi salah satu langkah pendekatan guru BK dengan pelajar sehingga tercipta hubungan yang baik antara pelajar dan pihak sekolah,” katanya.

Karya ini meraih dana Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat 2021.