Sekolah Kebhinnekaan Ajak Generasi Muda Siap Hadapi Tantangan Keberagaman

Inagurasi peserta menjadi puncak penutupan kegiatan Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul Angkatan IV di Vihara Jina Darma Sradha Wonosari, Minggu (24/10/2021).-Harian Jogja - Ist
26 Oktober 2021 11:57 WIB Galih Eko Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Generasi muda Gunungkidul perlu ditumbuhkan semangat keberanian menghadapi berbagai perbedaan suku, ras, golongan, agama dan kepercayaan di lingkungan tinggalnya.

Salah satu hal terpenting untuk bisa ditanamkan pada generasi muda adalah pembiasaan diri, bergaul dan berinteraksi dalam perbedaan. “Tak cukup cuma menyadari berada di lingkungan majemuk. Generasi muda butuh pembiasaan diri untuk membaur dalam segala perbedaan yang dihadapi,” ungkap Kepala Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul, Albertus Wahyu Widayat, dalam penutupan kegiatan Sekolah Kebhinnekaan angkatan IV 2021 di Vihara Jina Darma Sradha, Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Minggu (24/10/2021).

Wahyu mengatakan generasi muda yang tidak mau menyadari dan tidak berani membiasakan diri hidup dalam segala perbedaan sangat berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang intoleran. Kepribadian yang justru mengancam nilai keberagaman dalam Pancasila.

Kemajemukan mesti diletakkan secara benar pada diri generasi muda agar tumbuh pandangan wawasan kebangsaan yang benar. Melalui Sekolah Kebhinnekaan, generasi muda diajak semakin kritis menyikapi nilai-nilai kebinekaan dan berwawasan kebangsaan yang baik.

Penyelenggaran kegiatan Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul angkatan IV Tahun 2021 diikuti 80 peserta dengan penuh semangat dan kegembiraan meskipun masih dalam suasana PPKM pandemi Covid-19.

Kegiatan berlangsung tiga kali pertemuan tatap muka dan juga virual berlangsung yakni Sabtu (16/10/2021) dan Minggu (17/10/2021) dan puncak penutupan Minggu (24/10) menjadi ajang mempertemukan generasi muda lintas agama dan kepercayaan.

Peserta berasal dari utusan sejumlah organisasi keagamaan dan penghayat yakni Majelis Budhayana Indonesia (MBI), Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI), Badan Kerja Sama Gereja Kristen, GP Anshor NU, Fatayat NU, Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Katolik Rayon Gunungkidul serta Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ).