PPKM Level 2: Pendapatan Pedagang Pasar Mulai Normal

Suasana aktivitas jual beli di Pasar Bantul pada Rabu (3/11) yang membaik pasca diterapkanya PPKM 2. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.
04 November 2021 06:27 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Turunnya level PPKM membuat geliat perekonomian di berbagai sektor di Bantul kembali bergerak. Di pasar rakyat, pendapatan para pedagang bahan pokok berangsur membaik pasca anjlok di awal-awal penerapan PPKM.

Salah satu pedagang kebutuhan pokok Pasar Bantul, Ami menyebutkan semenjak turun ke level dua dan wisata dibuka, pendapatan hariannya kembali normal. Berbeda dengan saat awal-awal PPKM di mana pendapatan yang diterima jauh dari biaya kulakan yang dikeluarkan tiap harinya. "Sampun mulai normal lah, pesanan sudah mulai normal," katanya pada Rabu (3/11/2021).

BACA JUGA : Keringanan Retribusi di Pasar Tradisional Jogja Berlanjut

"Dulu misal habis kulakan dua juta rupiah baliknya enggak sampai segitu. Sekarang sudah sampai [menutup biaya kulakan]," tandasnya.

Kendati menyambut baik naiknya transaksi di los bahan pokok miliknya, kenaikan penjualan masih diiringi naiknya sejumlah harga berbagai komoditas. Cabai merah misalnya, sempat anjlok beberapa waktu lalu, harga cabai merah kini naik berkali-kali lipat.

"Awalnya Rp11.000 - 13.000 per kilogram. Sekarang dari sana [petani] sudah Rp28.000 per kilogram. Jadi ya jualnya satu ons Rp4000 kalau seperempat ya Rp9000, nanti ditimbang bolak-balik," tuturnya.

Kenaikan di produk-produk pabrikan tak kalah tinggi. Minyak goreng misalnya, Ami menyebutkan biasanya minyak goreng dibanderol di harga Rp12.000 per liter. Semenjak level PPKM turun, harganya melambung hingga mencapai Rp18.000 per liternya. "Naiknya langsung banyak, semenjak level dua ini. Pokoknya minyak, gandum, kecap, pokoknya segalanya lah naik semua," tandasnya.

Komoditas gandum juga mengalami kenaikan yang mencolok. Bahkan saat kulakan, Ami sampai-sampai diminta menunjukkan KTP dan nomor ponsel. Ami tak tahu menahu alasan itu, dia hanya menduga hal itu dilakukan untuk menghindari penimbunan gandum saat harga tengah naik.

"Gandum sekarang jualannya yang dulu Rp8000 per kilogram jadi Rp9000 per kilogram, yang harga Rp10.000 per kilogram jadi Rp11.000 per kilogram, tergantung merek," tandasnya.

Dibukanya wisata memang diduga Ami jadi penyebab naiknya penjualan kebutuhan bahan pokok. Namun di sisi lain juga khawatir jika ada kenaikan kasus Covid-19 lagi yang berdampak pada penutupan wisata dan berakibat langsung pada penjualan bahan pokok.

"Was-was, ya nanti kalau banyak lagi kasusnya. Saya takutnya naik lagi, Desember dan Januari kan banyak orang berpergian," tuturnya.

Pedagang bahan pokok lainnya, Widi juga tengah senang atas peningkatan pendapatan seiring turunnya level PPKM. "Kalau ini Alhamdullah sae, peningkatan. Sudah lumayan ketimbang PPKM level darurat, kalau itu menyakitkan tenan," tuturnya.

"Kalau dulu sehari kulakan, uangnya kembali separuh pun tidak. Kalau ini sudah kembali lagi, sangat-sangat bersyukur," tandasnya.

BACA JUGA : PPKM Darurat: 5 Pasar Tradisional di Kota Jogja Ditutup

Harga cabai merah dilapak Widi juga tengah naik-naiknya. Berkisar di bawah harga Rp20.000 per kilogram, kini harganya bisa di atas harga Rp30.000 per kilogramnya.

Minyak goreng seliteran juga naik di lapak Widi. Mulanya harga minyak goreng hanya Rp16.000 per kilogram, kini harganya mencapai Rp19.000 per kilogram. Sementata pada komoditas gandum, rata-rata ada kenaikan Rp500 untuk gandum kiloan masing-masing merek.

Widi berharap kondisi transaksi jual beli di pasar meningkat tak kembali redup karena adanya peningkatan kasus Covid-19. "Senang kembali normal, semoga tidak ada gelombang selanjutnya biar normal," katanya.