Klaster Takziah Sedayu Bantul Semakin Meluas

Ilustrasi. - Freepik
05 November 2021 15:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Bantul, Joko Budi Purnomo mengatakan pasien Covid-19 meningkat karena klaster takziah di Kapanewon Sedayu. Klaster tersebut tidak hanya menyebar di Sedayu namun sudah menyebar ke berbagai wilayah di Bantul dan luar Bantul.

Bahkan Sleman terbanyak yang terpapar dari klaster takziah tersebut. Berdasarkan hasil tracing yang dilakukan Pemkab Bantul dari klaster tersebut total ada 47 warga Bantul yang terpapar Covid-19. Dari jumlah tersebut di antaranya 28 warga Kapanewon Sedayu, sembilan warga Kapanewon Kasihan, enam warga Kapanewon Pajangan dan masing-masing satu warga di Kapanewon Bambanglipuro dan Kapanewon Sewon.

“Kasus klaster takziah ini juga merembet ke Kabupaten Sleman dengan 53 kasus, Kabupaten Kulon Progo empat kasus dan Kabupaten Gunungkidul sebanyak satu kasus,” kata dia, Jumat (5/11/2021).

BACA JUGA: Bukannya Sedih Mobilnya Hanyut Terkena Banjir, Pria Ini Malah Santai dan Tebar Senyum

Agar tidak terus meluas pihaknya sudah mengumpulkan meminta penewu Kasihan, Pajangan, Bambanglipuro, dan Sewon untuk berkoordinasi berdama Dinas Kesehatan dalam rangka menghentikan penularan Covid-19 agar tidak terus meluas.

Pihaknya juga sudah meminta tiga sekolah di Sedayu ditutup sementara, yakni SMN 1 Sedayu, SMPN 2 Sedayu dan SD Sukoharja Kalurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu. Penutupan dilakukan sampai tracing selesai dan semua siswa di tiga sekolah tersebut dinyatakan sehat. “Kita sudah bergerak cepat untuk menghentikan penularan,” ujar Joko

Lebih lanjut pria yang juga Wakil Bupati Bantul ini mengatakan penyebaran yang cepat dari klaster sedau karena sebagian yang terpapar adalah orang tanpa gejala (OTG) dan tidak mematuhi protokol kesehatan untuk melakukan isolasi.

“Hampir semua yang terpapar Covid-19 kategorinya OTG ini yang juga menyebabkan penyebarannya sangat cepat karena orang yang positif Covid-19 dalam kondisi sehat,” ujar Joko.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang pihaknya sudah meminta Satgas tingkat kalurahan, relawan, jaga warga, kepala dusun, hingga tokoh masyarakat untuk memantau setiap kegiatan sosial kemasyarakatan agar memenuhi protokol kesehatan. Dia tidak ingin pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 2 ini masyarakat euforia seolah Covid-19 sudah tidak ada.

Selain itu Selain itu Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama Dinas Kesehatan juga diminta untuk mendatangi sekolah-sekolah untuk survei perilaku prokes masyarakat di sekolah

“Monitoring oleh Satpol PP tata kelola prokes di tiap sekolah, survei perilaku masyarakat terkait prokesnya, nanti akan ditemukan peta akan langsung buat sebuah rumusan,” kata Joko.