Pemkot Jogja Akan Gelar Jogja Cross Culture 10 November Mendatang

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi di Kompleks Balai Kota Jogja, Kamis (19/8/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
06 November 2021 08:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-– Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan akan menggelar pentas seni Jogja Cross Culture (JCC) pada 10 November 2021 mendatang. Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, pentas JCC berbeda dengan pentas-pentas sebelumnya yang kental dengan pariwisata, atraksi, atau pertunjukan yang konsepnya menghibur.

Sedari awal konsep JCC menjadi ajang pertemuan para seniman dalam berkolaborasi. Tidak hanya menampilkan karya yang sudah ada, namun para seniman dari berbagai daerah ini akan membaur dengan masyarakat sekitar. Nantinya mereka akan berinteraksi dan berkolaborasi sampai membuat karya bersama untuk dipentaskan.

“JCC sejak awal dikonsepkan sebagai ajang seni Kota Jogja sebagai kota seni, agenda yang akan membuat orang merasa bangga apabila sudah tampil di Kota Jogja,” kata Heroe saat jumpa pers JCC di Kompleks Balai Kota Jogja, Jumat (5/11/2021).

Kolaborasi seniman Jogja dengan luar daerah bahkan luar negeri sebagai cerminan persilangan budaya yang ada di Jogja selama ini. Termasuk di dalam Kraton Jogja, terdapat banyak persilangan budaya dari musik sampai tarian.

“JCC lebih pada bagaimana seniman membangun karya, proses berkarya. Sejak awal pertumbuhannya membangun seni dan budaya selalu lintas terhadap kultur lain,” kata Heroe.

Lantaran masih dalam masa pandemi Covid-19, penyelenggaraan JCC berlangsung secara daring dari akun Youtube Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarya pada 10 November 2021 pukul 19.45 WIB. Selain seniman dari 14 kemantren yang ada di Jogja, seniman yang terlibat berasal dari luar Jogja dan luar negeri. Untuk luar negeri, negara yang berpartisipasi seperti Turki, Kanada, Rusia, Jepang, dan lainnya.

Menurut Program Director JCC, RM Altiyanto, dari seniman internal Jogja, akan ada 14 koreografer muda potensial Jogja dari masing-masing kemantren. Mereka memiliki gaya seni masing-masing. Sajian dalam bentuk koreografi tarian memperlihatkan cerita Jogja dari masa lampau sampai masa kini.

“Dari sebelum [Jogja] berdiri sampai revolusi dan reformasi. Merangkai 14 scene peristiwa yang disajikan seluruh kemantren dengan warna dan gaya masing-masing,” kata Altiyanto.

JCC juga tidak hanya sebatas mempersiapkan pentas yang kemudian dipertunjukkan. “Tapi juga membangun jaringan antar seniman. Semua rangkaian program yang pelibatannya semakin ke depan harapannya semakin banyak jaringannya,” kata Altiyanto.