Jaga Kebersamaan, Warga Neco Gelar Kenduri Ageng

Kirab budaya warga Pedukuhan Neco, Kalurahan Sabdodadi, Kapanewon Bantul, Bantul, yang dilanjutkan dengan Kenduri Ageng di pendopo pedukuhan setempat, Minggu (7/11/2021). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
08 November 2021 07:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Ratusan warga Padukuhan Neco, Kalurahan Sabdodadi, Kapanewon Bantul, menggelar Kenduri Ageng di pendopo pedukuhan setempat, Minggu (7/11/2021). Upacara adat tahunan tersebut sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus untuk mempersatukan warga di tengah perbedaan suku, agama, dan status sosial.

Kenduri Ageng diawali dengan kirab budaya yang diikuti warga di tiga rukun tetangga (RT). Iring-iringan peserta kirab yang mengelilingi Padukuhan Neco diawali dengan pasukan Bregada Lombok Abang, kemudian diikuti pasukan berkuda, grup salawat, gunungan hasil bumi, dan sejumlah ibu yang membawa sarang atau wadah dari anyaman daun kelapa yang berisi nasi gurih.

Gunungan dan sarang kemudian dibawa ke Pendopo Padukuhan Neco untuk didoakan bersama-sama. Selanjutnya gunungan dan sarang dibagikan kepada masyarakat yang hadir. “Kenduri Ageng rutin digelar warga setahun sekali sejak dulu,” kata Kepala Dusun Neco, Subandi, Minggu.

Hadir dalam Kenduri Ageng tersebut Wakil Bupati Bantul, Joko Budi Purnomo; Penewu Bantul, Fauzan Mu’arifin; Mantan Penewu Bantul, Jati Bayu Broto; Lurah Sabdodadi, Siti Fatimah; perwakilan Dinas Kebudayaan DIY, serta Kapolsek dan Danramil Bantul.

Subandi mengatakan Kenduri Ageng merupakan wujud rasa syukur warga atas limpahan nikmat dan rezeki yang diberikan Tuhan. “Kegiatan ini sekaligus untuk mempersatukan warga yang memiliki latar belakang berbeda-beda sehingga tercipta kerukunan warga yang harmonis,” ujar Subandi.

Penyelenggaraan Kenduri Ageng kali ini lebih spesial karena bertepatan dengan penetapan Sabdodadi sebagai Kalurahan Mandiri Budaya, sekaligus selamatan terbangunnya pendopo atau Joglo Neco yang selesai dibangun dengan dana swadaya masyarakat dan bantuan dari Dinas Kebudayaan DIY.

Ketua Kalurahan Budaya Sabdodadi, Sumaji mengatakan Kenduri Ageng digelar sebagai bagian dari kegiatan mandiri budaya. Karena kegiatan tersebut rutin digelar oleh warga Neco, maka Sabdodadi ditetapkan sebagai Kalurahan Mandiri Budaya. Sebelumnya juga ada rangkaian peletakan batu pertama pembangunan wisata di Dusun Bangeran.

Dusun Bangeran ditetapkan sebagai lokasi wisata sejarah karena di dusun tersebut ada Sendang Patirtan Kamulyan yang dulu merupakan pesanggrahan Prabu Brawijaya bersama permaisurinya. Selain itu ada watu kenteng sebagai tempat memberi minum kuda milik Prabu Brawijaya.

Sumaji menyatakan Sabdodadi merupakan satu-satunya kalurahan di Bantul yang menyandang status Kalurahan Mandiri Budaya. Alasannnya ada empat komponen, yakni sudah menjadi Kalurahan Budaya sesuai SK Gubernur DIY, telah menjadi desa wisata yang ditetapkan oleh Bupati Bantul, menjadi desa prima, dan memiliki semangat gotong-royong yang tinggi. “Empat komponen itu ada semua di Sabdodadi,” kata Sumaji.

Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo mengaku bangga atas prestasi yang diraih Kalurahan Sabdodadi sebagai Kalurahan Mandiri Budaya satu-satunya di Bantul. “Kami bangga dengan Sabdodadi yang mampu mengelola pemerintahan dengan baik, mampu memberdayakan masyarakat sekaligus menggali potensi yang dimiliki, sehingga mendapatkan predikat desa mandiri budaya,” kata Joko.

Sebagai konsekuensi, Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan memberikan dukungan karena sudah menjadi status mandiri budaya berupa pembangunan destinasi wisata dan pembangunan balai budaya, pendopo, serta kegiatan-kegiatan kebudayaan.