Serangan Umum 1 Maret, Momen Pengingat Nilai Bangsa Indonesia

Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berada di kawasan Malioboro, Jogja. - Harian Jogja/Sirojul Khafid
10 November 2021 06:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sebagai salah satu pertempuran penting melawan Belanda pada Agresi Militer II, Serangan Umum 1 Maret 1949 mengandung berbagai nilai. Setidaknya ada empat nilai yang perlu dihayati bersama yaitu pengamalan ideologi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bendera Merah Putih dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam hal semangat pengamalan Pancasila misalnya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menjelaskan pertempuran tersebut merupakan bentuk bersatunya masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Menjelang Serangan Umum 1 Maret, saat para pemimpin bangsa dalam kondisi terkekang oleh Belanda, militer dan masyarakat bersatu untuk melakukan serangan.

Sementara dalam pengamalan Bhinneka Tunggal Ika, serangan tersebut berasal dari berbagai suku, agama, ras, dan golongan yang ada di Indonesia. Tujuannya agar Indonesia yang kala itu beribu kota di Jogja tidak jatuh ke tangan Belanda.

“Serangan Umum 1 Maret menunjukkan satu perjuangan yang saling bersinergi dan berkolaborasi. Hasilnya membuat satu peristiwa yang luar biasa, saat militer, masyarakat, bahkan para pejuang dari luar Jogja sengaja datang untuk membantu membuktikan bahwa Indonesia masih ada,” kata Dian, Senin (8/11).

“Saat itu banyak dukungan masyarakat, termasuk dari luar DIY, semua membaur untuk satu tujuan, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan.”

Selain membuktikan kekuatan Indonesia masih ada, pertempuran yang berlangsung selama enam jam ini juga menjadi daya tawar para diplomat Indonesia. Melalui serangan ini, yang berhasil mengusir pasukan agresi dari Jogja, para diplomat mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Belanda untuk kembali menggelar perundingan.

Ini satu momen yang penting, hingga perundingan ke depannya sedikit demi sedikit memberi peluang Indonesia berdaulat secara utuh. Sehingga tidak berlebihan apabila Serangan Umum 1 Maret bukan saja peristiwa yang berdampak lokal di DIY, tetapi juga berskala nasional bahkan Internasional.

 

Hari Besar Nasional

Agar nilai-nilai ini semakin teringat oleh masyarakat Indonesia, Pemda DIY mengusulkan Serangan Umum 1 Maret menjadi Hari Besar Nasional dengan tema Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Dengan pengingat ini, harapannya masyarakat sebagai bagian bangsa Indonesia bisa memiliki kesadaran dan mengimplementasikan nilai-nilai dari pertempuran ini.

“Pengajuan Serangan Umum 1 Maret menjadi Hari Besar Nasional bukan dalam rangka memunculkan penokohan tertentu, tetapi lebih kepada bagaimana peristiwa ini akan mampu memberikan satu ingatan dan kesadaran kepada masyarakat Indonesia yang kondisinya saat ini banyak tantangan,” kata Dian.

“Tantangan ini bisa berupa separatisme, keinginan suatu kelompok mengganti ideologi, mempertanyakan NKRI, Merah Putih, dan sebagainya.”

Dengan mengingat dan kemudian memahami nilai peristiwa ini, harapannya masyarakat kembali memahami nilai-nilai Pancasila, NKRI, Merah Putih, dan Bhineka Tunggal Ika. Ingatan dan kesadaran ini bisa membentuk karakter bangsa, termasuk generasi muda dalam proses mencari identitas dan jadi dirinya.

“Apabila terimplementasi dengan baik, maka harapannya masyarakat Indonesia memiliki sifat yang lebih bertoleransi, gotong-royong, sampai empati. Nilai ini bisa tergerus apabila tidak diingatkan kembali secara konsisten,” kata Dian.

Saat ini pengusulan Serangan Umum 1 Maret menjadi Hari Besar Nasional dalam proses kajian administrasi dan esensinya. Persiapan yang sudah berlangsung sejak 2018 ini terus bergulir seiring dengan penjaringan dukungan dari masyarakat, yang juga berasal dari 34 provinsi di Indonesia.

Peringatan Serangan Umum 1 Maret yang sebelumnya sudah rutin diperingati di DIY juga semakin digencarkan. Ada berbagai acara seperti seminar, teatrikal, pameran, roadshow, dan lainnya. (*)